Home Internasional Pita Limjareonrat Gagal jadi PM Thailand, Srettha Thavisin Menguat

Pita Limjareonrat Gagal jadi PM Thailand, Srettha Thavisin Menguat

Bangkok, Gatra.com - Parlemen Thailand akan mengadakan pemungutan suara lagi untuk memilih perdana menteri pada pekan depan. Pemilihan itu tanpa menyertakan pemimpin pemenang partai pergerakan Maju, Pita Limjareonrat.

Dikutip Reuters, Kamis (20/7), Wakil Ketua DPR Pichet Chuamuangphan mengatakan itu setelah pencalonannya kembali pada Rabu kemarin, dinilai gagal.

Langkah parlemen untuk menolak Pita Limjareonrat setelah debat maraton tentang kelayakannya pada hari Rabu, yang akhirnya memicu aksi protes jalanan, akibat krisis pasca pemilihan yang semakin dalam dua bulan setelah partainya mengalahkan saingan, yang didukung militer dalam pemilihan.

"Seorang kandidat hanya dapat dicalonkan satu kali dalam setiap sesi parlemen," kata Wakil Ketua DPR Pichet Chuamuangphan kepada Reuters, Kamis.

Baca Juga: Gagal Rebut Suara Parlemen jadi PM Thailand, Pita Limjaroenrat Belum Menyerah

Pita, 42 tahun, berlatar belakangan pendidikan Amerika Serikat, menghadapi perlawanan keras dari kekuatan konservatif dan royalis, yang berbenturan dengan kebijakan anti kemapanan partai.

Pada hari Rabu, parlemen memilih untuk memblokir tawaran keduanya untuk jabatan perdana menteri dan Mahkamah Konstitusi menangguhkan dia sebagai anggota parlemen, karena penyelidikan kasus terhadapnya atas tuduhan bahwa dia melanggar undang-undang pemilihan, setelah diketahui memegang saham di sebuah perusahaan media. Pita membantah melanggar aturan pemilu.

Tindakan legislatif dan yudisial terhadapnya telah menimbulkan kemarahan dari para pendukungnya.

"Jika kita mengadakan pemilu dan hanya ini yang kita dapatkan, mengapa Anda tidak memilihnya sendiri," kata seorang pengunjuk rasa pada Rabu malam, yang disambut tepuk tangan di kerumunan yang berkumpul di pusat kota Bangkok, mengenakan pakaian hitam.

Baca Juga: Thailand Bubarkan Parlemen, Pertarungan Politik Shinawatra Vs PM Prayuth

Tagar Twitter dari protes itu digunakan setidaknya 2 juta kali.

Akibat kericuhan itu, indeks saham utama Thailand naik sekitar 2,6 persen sejak 14 Juli, sehari setelah Pita pertama kali ditolak oleh parlemen, sementara baht menguat 1,7 persen terhadap dolar. Investor asing membeli 15,8 miliar baht (US$465,53 juta) bersih saham dan obligasi Thailand selama 14-19 Juli.

Minggu depan, taipan real estat dan pendatang baru politik Srettha Thavisin dari partai runner-up Pheu Thai, bagian dari aliansi delapan partai Pita, akan dinominasikan sebagai perdana menteri.

Aktivis tetap merencanakan lebih banyak pertemuan dan meminta orang-orang untuk mengenakan pakaian hitam, memprotes apa yang mereka lihat sebagai peraturan yang ditumpuk terhadap pemenang pemilu.

Baca Juga: Menangkan Pemilu Thailand, Pita Limjaroenrat siap Menjabat Perdana Menteri

Konstitusi yang dirancang militer mendukung partai-partai konservatif, mengharuskan calon perdana menteri mana pun untuk mengamankan setidaknya 375 suara dari sidang gabungan legislatif bikameral termasuk 249 anggota senat, yang ditunjuk junta dan majelis rendah terpilih dengan 500 anggota.

Para pengunjuk rasa telah meminta para senator untuk mengundurkan diri dan koalisi delapan partai Pita, untuk tetap bersatu dan menegakkan janji pemilu.

213