Home Hiburan Swargaloka Bawa Ratapan di Timur Tanah Jawa dalam Festival Musikal Indonesia

Swargaloka Bawa Ratapan di Timur Tanah Jawa dalam Festival Musikal Indonesia

Jakarta, Gatra.com - Penampilan Komunitas Swargaloka dalam Festival Musikal Indonesia(FMI) 2023 mendapat sambutan meriah. Membawakan kisah bertajuk Ratapan di Timur Tanah Jawa, Sutradara sekaligus Penulis Bhatara Saverigadi mengungkapkan bahwa pelibatan kru dan pemain dari berbagai daerah menjadi tantangan dalam menyiapkan penampilan ini.

"Proses kreatif terjadi secara bersamaan. Dalam proses pembuatan musik, kolaborasi di Solo dan Jakarta. Latihan tokoh utama secara berbarengan baru dimulai pada lima hari terakhir. Dua tokoh utama berasal dari Banyuwangi dan Solo, lainnya di Jakarta," ujarnya usai membawakan drama di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta, Sabtu (28/10).

Ia merinci bahwa ini merupakan salah satu drama musikal yang diproduksi dalam waktu yang cukup singkat. Penyelesaian penulisan script dilakukan selama dua bulan, kemudian satu bulan berikutnya untuk pematangan dan waktu tiga pekan untuk latihan.

Selain itu, ia mengaku sempat ke Banyuwangi juga untuk bisa "meminta izin" kepada semua yang di Alas Purwo untuk membawakan kisah berlatar tempat yang sama. Ratapan Di Timur Tanah Jawa sendiri diangkat dari urban legend masyarakat Jawa yaitu kerajaan jin terbesar di "Alas Purwo" Banyuwangi.

"Saya sempat datang ke Banyuwangi di sela-sela waktu latihan selama satu hari, karena diminta dan keinginan sendiri juga," lanjutnya.

Sesuai dengan tema penampil utama tahun ini, kisah yang ditampilkan merupakan Urban Legend dari Indonesia. Ia melihat bahwa banyak pesan yang bisa diambil dari kisah-kisah yang selama ini ada.

"Ada yang bicara sembarangan dan merusak di Alas Purwo, kami ingin mengingatkan hormatilah apa yang ada di sekitar, bukan hanya manusia," katanya.

Meskipun membawa kisah horor, beberapa pengemasan adegan dilakukan dengan sentuhan komedi. Menurutnya, hal itu menjadi penting sebab mengingatkan betapa rasa kemanusiaan hadir dalam kehidupan.

Pelibatan tokoh dari berbagai latar usia dan latar belakang juga membuat kisah ini bisa menyentuh banyak pihak. Representasi berbagai persoalan yang dihadapi, termasuk dengan isu-isu terkini generasi muda juga sempat disinggung dalam sajian yang berlangsung selama sekitar 45 menit.

"Jangan mudah menyerah, apa-apa harus diperjuangkan dulu, persoalan semua bisa dipertimbangkan dan ditelaah pelan-pelan," pungkasnya.

77