Home Politik Mahasiswa Sulteng Gelar Mimbar Demokrasi Tolak Politik Dinasti

Mahasiswa Sulteng Gelar Mimbar Demokrasi Tolak Politik Dinasti

Jakarta, Gatra.com – Mahasiswa dan masyarakat menggelar Mimbar Demokrasi di halaman kampus Unazlam Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng). Mereka menolak politik dinasti dan Neo Orde Baru (Orba) pada Jumat (1/12).

Ketua Pelaksana Mimbar Demokrasi, Moh. Idham, dalam keterangan pers, menyampakaikan, aksi tersebut diikuti sekitar 5 ribu mahasiswa dan masyarakat untuk menjaga demokrasi di negeri ini.

“Tolak politik dinasti dan pelanggar HAM. Begitu banyak ketimpangan yang terjadi di masyarakat. Kita punya keresahan yang sama,” ujarnya.

Ia menyampaikan, negara ini tidak lagi berpihak kepada masyarakat, termasuk petani, nelayan, dan berbagi elemen lainnya. “Tetapi kami bersyukur masih ada aktivis perempuan yang masih melawan,“ ujarnya.

Mimbar demokrasi ini juga menampilkan para orator dari aktivis 98 seperti Ariyanto Sangaji, Deddy Irawan, dan Dedi Askary. Mereka bergantian berorasi dengan juniornya mahasiswa perwakilan dari perguruan tinggi yang ada di Kota Palu, seperti dari Universitas Tadulako (Untad), Universitas Alkhairaat (Unisa), Poltekes, dan beberapa perguruan tinggi lainnya.

Ketua Yayasan Panca Bakti Palu, Ir. H. Rendy Afandi Lamadjido, MBA, juga ikut menyampaikan orasinya dalam kegiatan tersebut. Rendy merasa sangat bangga masih ada mahasiswa di era milenial ini menghimpun kekuatan melawan kekuasaan yang mulai melenceng dari titah Reformasi 1998.

“Kekuatan mahasiswa melawan rejim itu tugas mulia. Melihat kesewenang-wenangan. Maka perlu dilahirkan gerakan mhasiswa sebagai kontrol terhadap jalannya pemerintahan, “ tegas Rendy.

Sementara itu, Direktur Yayasan Tanah Merdeka, Aryanto Sangaji, yang juga aktivis 98 menegaskan, telah terjadi kesewenangan dalam penegakan hukum di Indonesia saat ini. Mahkamah Konstitusi (MK) telah dipaksa memunculkan anak Presiden sebagai calon Wakil Presiden (Cawapres).

“Ini nepotisme. Kita hajar KKN seperti di era Orba. Bila kita tidak hati-hati meresponsnya ini bahaya. Kembali muncul 25 tahun kemudian. Hadir kembali KKN seperti yang terjadi di zaman rezim Orde Baru (Orba). Segera kita lakukan perlawanan, “ katanya.

Pria yang karib disapa Anto ini mengaku setuju dengan Mimbar Demokrasi. “Bahwa mahasiswa itu masih ada, berjuang bersama-sama rakyat. Juga, masih banyak perempuan yang kuat melawan,” ujarnya.

80