Home Gaya Hidup Dari Bantul ke Taiwan, Seniman Dua Bangsa Menyusuri Sejarahnya

Dari Bantul ke Taiwan, Seniman Dua Bangsa Menyusuri Sejarahnya

Bantul, Gatra.com - Seniman-seniman Taiwan memamerkan karyanya selama sebulan ini di Galeri Lorong di Dusun Jeblok, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka berolaborasi dengan dua seniman Yogyakarta dan selanjutnya akan memboyong karya mereka ke Taiwan.

Di lantai dua Galeri Lorong yang teduh, semilir, dan mirip labirin kayu, dua kain batik ukuran 100x115 centimeter digantungkan. Masing-masing didominasi warna hijau dan kuning-kecoklatan.

Batik itu diisi motif-motif manasuka: manusia, hewan, tanaman, benda-benda sehari-hari baik yang berbentuk proporsional maupun yang deformis-buruk rupa.

Dalam karya bertajuk “Village Story in My Life”, seniman Arwin Hidayat menyatakan menantang kreativitasnya dengan wujud-wujud itu sebagai isian batik, bahan busana yang dianggap sebagai karya adiluhung masyarakat Jawa, bahkan Indonesia.

“Saya coba menyusun bahan pakaian itu menjadi karya. Batik sendiri bukan cuma sekadar busana tapi sudah menjadi karya. Karya ini menyankut negara, keluarga, dan hal-hal personal saya,” kata Arwin dalam catatannya tentang karya ini.

Karya Arwin salah satu yang ditampilkan di pameran “Letter.Callus.Post-war” selama 13 April-19 Mei 2019. Dua seniman Indonesia dan delapan perupa Taiwan terlibat di pameran ini.

Seperti diungkap dua kuratornya, Arham Rahman dan Chen Hsiang Wen, pameran ini coba mempertanyakan cerita-cerita dua bangsa masalalu yang tak masuk catatan sejarah. Kisah-kisah ini bisa menjadi metode untuk menjelaskan diri kita saat ini.

“Proyek ini dikembangkan melalui sejumlah perjalanan ke Taiwan dan Indonesia. Ada hubungan luar biasa antara sejarah dan situasi sosisal modern di dua negara ini,” kata Arham yang juga mengelola Galeri Lorong.

Untuk itu, pameran ini mengumpulkan kembali fragmen-fragmen kenangan dan sejumlah mikro-objek sebagai sarana mempelajari jejak-jejak sejarah individu dan suatu kelompok.

Karya-karya perupa mengeksekusi kenangan pribadi hingga mengolah kerajinan yang menjadi warisan budaya. “Aneh dan menyenangkan melihat sisa-sisa kenangan yang tak terekam dari masa lalu dan berbagi kesamaan di antara perbedaan dua negara ini,” lanjut Arham.

Perupa Maharani Mancanagara contohnya, menyusun komik "Hikayat Wanatentrem" untuk mengenalkan tragedi 1965. Ia menelusuri diari neneknya hingga ke penjara Koblen di Surabaya.

Penjara ini transit eks tahanan politik sebelum ke Pulau Buru dan Nusakambangan. Diilhami cerita anak-anak, Maharani menggambarkan para tokoh dalam sejarah krusial Indonesia ini dalam wujud hewan.

Adapun seniman Taiwan Lo Yi-Chun terkesan dengan busana-busana warga Yogyakarta saat mengunjungi Museum Sonobudoyo dan Keraton Yogyakarta. Ia melihat para pria mengenakan kuluk dan perempuan berhijab--seperti para pekerja perempuan Indonesia di Taiwan yang sempat ditemuinya.

Kesan ini pun dicurahkan dalam potret-potret diri mereka yang mengenakan busana muslim itu dalam karya “Kuluk and Hijab”. Uniknya, Yi-Chun memilih medium yang tak terpikirkan, yakni kulit pisang.

Rekannya, Zhang Xu Zhan, justru menggali dongeng populer Indonesia tentang hewan yang cerdas dan dianggap menjadi tamsil atas realitas politik. Karya "Kancil" dieksekusi melalui bentukan kertas dan medium campuran seukuran 15x25x25 centimeter.

Manajer Galeri Lorong Rifia Pratiwi mengatakan seniman-seniman Taiwan menjalani residensi di galeri ini. “Pameran ini kolaborasi seniman Taiwan dan Indonesia dan salah satu program rutin bulanan galeri kami,” kata Rifia kepada Gatra.com, Rabu (15/5).

Pameran ini menjadi rangkaian program di dua negara. Untuk itu, setelah di Galeri Lorong di Dusun Jeblok di Bantul, karya-karya ini juga akan dipamerkan di Taiwan.

 

710