Home Ekonomi Indonesia Miliki Potensi di Industri Pati Jagung

Indonesia Miliki Potensi di Industri Pati Jagung

Jakarta, Gatra.com - PT Tereos FKS Indonesia mengekspor 35.000 ton pati jagung ke 10 negara di dunia. Perusahaan patungan grup FKS (Indonesia) dan Tereos (Perancis) ini menjadi pemain utama di pati jagung nasional dengan pangsa pasar 20%.

Presiden Direktur PT Tereos FKS Indonesia, Laurent Lambert menyebut pihaknya telah mengekspor pati jagung ke Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, Taiwan, Korea Selatan, India, Turki, dan Senegal.

"Saya percaya Indonesia memiliki potensi besar dalam industri ini," katanya di acara diskusi "Peran Jagung dalam Perekonomian Indonesia : Tantangan dan Peluang" di Jakarta, Kamis (22/8).

Laurent mengatakan, di tahun 2018, produksi pati jagung dari pabrik perusahaan yang terletak di Cilegon, Banten tersebut sebesar 15.000 ton per bulan dengan kapasitas produksi sebesar 1.300 ton jagung per hari.

Dikatakan, PT Tereos FKS Indonesia juga memproduksi sirup glukosa sebesar 7.000 ton dan maltodekstrin sebesar 2.000 ton.

"Tujuan kami mempertahankan penguasaan pasar Indonesia dengan tetap investasi," ungkapnya. 

Pihaknya tetap berinvestasi pada pabrik dan sumberdaya manusia.

Laurent mengungkapkan bahwa Cina menjadi pesaing berat dalam industri pati jagung, bahkan produknya sampai membanjiri Indonesia. Namun PT Tereos berusaha mengisi pasar pati jagung Indonesia yang 60% kebutuhannya masih dipenuhi oleh impor.

Direktur Penjualan dan Pemasaran PT Tereos FKS Indonesia, Maya Devin mengungkap telah berinvestasi lebih dari USD100 juta sejak perusahaan patungan ini berdiri tahun 2014.

Maya mengaku jika seratus persen kebutuhan jagung masih dipenuhi oleh jagung impor. 

"Untuk industri ini kita butuh jagung dengan spesifikasi tertentu. Aflatoksinnya harus rendah. Corn (jagung) kualitasnya akan terbawa sampai produk akhir," ungkapnya. 

Disebutkan bahwa standar kandungan aflatoksin untuk produk pangan sebesar 20 ppb (part per billion).

"Kita sangat terbuka untuk jagung lokal, tapi harus memenuhi food standard (standar pangan)," ujarnya. 

Sejauh ini, perusahan tengah melakukan riset dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk mengembangkan jagung rendah aflatoksin.

1074

KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR