Home Kebencanaan Lumpur Setinggi 40 Meter Muncrat Disusul Gempa Maluku

Lumpur Setinggi 40 Meter Muncrat Disusul Gempa Maluku

3219

Ambon, Gatra.com- Gempa tektonik berkekuatan 6.8 SR yang mengguncang Kota Ambon, Kabupaten Maluku Tengah dan Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku, terungkap diawali dengan muncratnya lumpur setinggi kurang lebih 40 meter, Kamis (26/9/2019) lalu.

Lumpur yang keluar dari dalam perut bumi ini terlihat di pantai Waitasi, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat. Saat lumpur keluar, tak berselang lama gempa mengguncang pukul 08.46 WIT tersebut.

Hal ini disampaikan Bupati Seram Bagian Barat, M. Yasin Payapo, saat menyampaikan laporan data penanganan darurat bencana di posko Media Center Penanggulangan Darurat Bencana Provinsi Maluku, Markas Korem 151/Binaiya, Kota Ambon, Rabu (9/10/2019).

Di hadapan Kepala BNPB RI Letjen TNI Doni Monardo, Payapo mengaku kejadian muncratnya lumpur disusul gempa tektonik ini terlihat dari jarak sekitar 200 meter dari bibir pantai Dusun Kelapa Dua, Desa Kairatu.

"Gempa ini kalau di Kabupaten Seram Bagian Barat berpusat di sekitar Kairatu, lokasi Kelapa Dua. Jadi saat itu, ada orang lihat pada saat gempa terjadi sekitar 200 meter dari pantai Waitasi ada lumpur yang naik sekitar 40 meter lebih. Setelah itu baru gempa itu terjadi," ungkap Payapo.

Payapo juga mengaku, alur gempa berada di pesisir Kairatu. Ini dibuktikan dengan ada sejumlah lubang yang menganga di bibir pantai tersebut.

Dia mengatakan, lubang-lubang tersebut sangat dalam. Sebab, saat dimasukan kayu tidak menemui dasarnya.

"Kemudian alur gempa itu berada di pesisir Kairatu, Kairatu Raya itu dengan beberapa lubang yang ada. Lubang-lubang itu ada kayu yang dimasukin ke situ hilang," terangnya.

Akibat gempa itu, lanjut Payapo yang juga merupakan ketua DPD Partai Hanura Provinsi Maluku ini, terdapat sebanyak 20 orang meninggal dunia di SBB hingga hari ini.

"Saat gempa tercatat ada 7 orang meninggal. Ada yang jatuh, ada yang jantungan. Akibat gempa sebanyak 13 orang meninggal di pengungsian. Dan hari ini ada satu orang meninggal di pengungsian Kelapa Dua. Maka sampai saat ini sudah berjumlah 20 orang," katanya.

Selain korban meninggal, sebanyak 2.568 orang saat ini menjadi korban rawat inap. Ribuan orang ini berada dalam penanganan Puskesmas Waimital, Kairatu Barat, Kairatu Tomalehu dan RSU Piru.

"Kemudian sebanyak 1.091 unit rumah rusak. 475 unit rusak ringan, 386 rusak sedang dan 230 rusak berat. Lalu fasilitas umum dan pemerintah sebanyak 86 unit," terangnya.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS