Home Politik Sihar Sitorus Kritisi Angka Kemiskinan Versi BPS

Sihar Sitorus Kritisi Angka Kemiskinan Versi BPS

Medan, Gatra.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) Sihar PH Sitorus mengkritisi angka kemiskinan yang disajikan Badan Pusat Statistik (BPS). Menurut Sihar angka kemiskinan tersebut tidak relevan dengan kondisi di lapangan.

Sihar mengatakan bahwa data yang disajikan oleh BPS mengenai statistic kemiskinan Indonesia di Maret 2019 ada pada angka 9,41 %. Menurutnya angka stunting berkaitan dengan angka kemiskinan.

Baca Juga: Potensi Alam dan Pertanian Sumut Harus Diberdayakan

Sihar mengatakan bahwa jika angka kemiskinan hanya berada di 9, 41% sementara stunting masih di 27,67%. “Ya parameter kemiskinan ini perlu lihat lebih jauh karena kita bilang hanya 10 persen miskin tapi orang yang terkena stuntingnya kok 30%,” tutur Sihar.

Sihar menuntut adanya langkah yang lebih jauh untuk memperoleh data yang lebih kuat mengenai stunting. Data tersebut menurutnya penting untuk menyelesaikan masalah stunting di Indonesia.

Di Sumatra Utara (Sumut) daerah pemilihan Sihar, stunting mencapai 32,39 %, data terakhir di Indonesia 27,67 %. Praktisi mengatakan angka ini terlalu rendah, berarti ada data yang lebih tinggi dari ini.

Baca Juga: Sihar Sitorus Sosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan

“Untuk mengukur stunting ini, diperlukan langkah yang lebih konkrit, bila perlu dissensus satu per satu untuk stunting,” terangnya dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi XI DPR RI dengan BPS tersebut.

Dalam data yang dipaparkan oleh Badan Pusat Statistik pada 2045 jumlah penduduk Indonesia akan melonjak naik dari 266,91 jiwa di 2019 menjadi 318,96 juta jiwa di tahun 2045.

Sementara bonus demografi mulai terbuka di tahun 2012 dan tertutup pada 2036 dengan puncak di tahun 2021. Sehingga jumlah lansia akan meningkat tiga kali lipat di 2045 dengan data 22,99 juta atau 9 % di 2015 menjadi 63,31 jiwa atau 19,85 % di 2045.

Baca Juga: Sihar Soroti Permasalahan di Kepulauan Nias

Berdasarkan data yang dipaparkan oleh BPS tersebut, Sihar melihat jauh ke depan apabila tidak dilakukan upaya pengentasan stunting yang serius dari sekarang, 2045 masalah ini akan menjadi beban serius bagi negara.

“Bayangkan kalau ada 30 persen dari 300 jutaan itu kena stunting, dan pada tahun 2045 saya sudah 75 dan sudah termasuk lansia. Maka beban negara ini yang jumlahnya lansia hitung-hitungan kita tadi 63,31 juta lansia,” katanya.

Mungkin kata Sihar, sedikit dari mereka juga beririsan dengan stunting. “Jadi mungkin kita mendekati 25 persen ke 30 persen dari warga negara Indonesia akan menjadi beban bagi warga negara yang produktif,” paparnya.

Baca Juga: Edy Rahmayadi Harapkan Dukungan Anggota DPR RI Asal Sumut

Sihar juga menyinggung mengenai pernyataan Presiden Joko Widodo dimana di 2045 target Pendapatan Perkapita di Indonesia yakni sekitar 23.000 USD atau Rp320 juta per tahunnya. Jika ingin tercapai, stunting masalah yang sangat penting untuk ditangani.

“Pak Jokowi menginginkan tingkat pendapatan perkapita menjadi 23.000 atau 25.000 di 2045 dengan kita menggendong 3 dari 10 orang apakah itu bisa tercapai? Untuk itu tercapai, maka kita dari sekarang harus benar-benar menghitung stunting ini,” ujarnya.

Reporter: Baringin Lumban Gaol

336