Home Pendidikan Bangunan Sekolah Diminta Serap Keunikan Budaya Daerah

Bangunan Sekolah Diminta Serap Keunikan Budaya Daerah

73

Jakarta, Gatra.com – Penerima penghargaan Satyalencana Kebudayaan 2021, Dedi Mulyadi menganggap bahwa esensi kebudayaan harus mulai ditanamkan dalam sektor-sektor pendidikan di Indonesia. Dedi mengaggap, pendidikan di tanah air harus mencirikan kultur budaya dari tiap-tiap daerah, tidak bisa lagi diseragamkan.

Salah satu yang disoroti mantan Bupati Purwakarta ini adalah bagaimana bangunan-bangunan sekolah yang ada saat ini sangat seragam. Padahal menurutnya, bangunan sekolah bisa di implementasikan beragam sesuai dengan bentuk arsitektur kebudayaan di tiap-tiap daerah.

“Salah satu kultur budaya kan bisa tercermin dari bentuk arsitektur bangunan. Saya harap, Kemendikbudristek bisa untuk memelopori gerakan kembali pada arsitektur nusantara. Khususnya pada sekolah,” kata Dedi dalam Taklimat Media penghargaan Satyalencana Kebudayaan 2021 di Kantor Kemendikbudristek, Kamis (25/11).

Dedi berharap, Kemendikbudristek bisa mengambil langkah atas usulannya tersebut dengan mulai menjalin komunikasi bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) selaku leading sector.

"Misalnya, rumah adat di NTB itu jadi ciri sekolah, rumah adat di Papua itu menjadi bentuk sekolah, nanti rumah adat di Bali itu menjadi sekolah, rumah adat di Jawa Barat itu menjadi bentuk sekolah, rumah adat di Jawa Tengah, Yogya, itu menjadi bentuk sekolah. Sehingga Indonesia tidak kehilangan keanekaragaman," tegasnya.

Sementara itu, menanggapi usulan tersebut, Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek, Hilmar Farid mengatakan, bahwa pihaknya tengah merencanakan agar desain bangunan sekolah tidak lagi seragam.

"Ini sudah dalam rancangan kita. Sudah mulai dibicarakan dengan Mas Menteri, Nadiem Makarim . Arah pemikran Kang Dedi memang semoga bisa diadopsi," kata Hilmar.Jakarta, Gatra.com – Penerima penghargaan Satyalencana Kebudayaan 2021, Dedi Mulyadi menganggap bahwa esensi kebudayaan harus mulai ditanamkan dalam sektor-sektor pendidikan di Indonesia. Dedi mengaggap, pendidikan di tanah air harus mencirikan kultur budaya dari tiap-tiap daerah, tidak bisa lagi diseragamkan.

Salah satu yang disoroti mantan Bupati Purwakarta ini adalah bagaimana bangunan-bangunan sekolah yang ada saat ini sangat seragam. Padahal menurutnya, bangunan sekolah bisa di implementasikan beragam sesuai dengan bentuk arsitektur kebudayaan di tiap-tiap daerah.

“Salah satu kultur budaya kan bisa tercermin dari bentuk arsitektur bangunan. Saya harap, Kemendikbudristek bisa untuk memelopori gerakan kembali pada arsitektur nusantara. Khususnya pada sekolah,” kata Dedi dalam Taklimat Media penghargaan Satyalencana Kebudayaan 2021 di Kantor Kemendikbudristek, Kamis (25/11).

Dedi berharap, Kemendikbudristek bisa mengambil langkah atas usulannya tersebut dengan mulai menjalin komunikasi bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) selaku leading sector.

"Misalnya, rumah adat di NTB itu jadi ciri sekolah, rumah adat di Papua itu menjadi bentuk sekolah, nanti rumah adat di Bali itu menjadi sekolah, rumah adat di Jawa Barat itu menjadi bentuk sekolah, rumah adat di Jawa Tengah, Yogya, itu menjadi bentuk sekolah. Sehingga Indonesia tidak kehilangan keanekaragaman," tegasnya.

Sementara itu, menanggapi usulan tersebut, Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek, Hilmar Farid mengatakan, bahwa pihaknya tengah merencanakan agar desain bangunan sekolah tidak lagi seragam.

"Ini sudah dalam rancangan kita. Sudah mulai dibicarakan dengan Mas Menteri, Nadiem Makarim . Arah pemikran Kang Dedi memang semoga bisa diadopsi," kata Hilmar.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS