Home Ekonomi Hadapi Tantangan Inflasi, Luhut Minta Semua Pihak untuk Kompak

Hadapi Tantangan Inflasi, Luhut Minta Semua Pihak untuk Kompak

Jakarta, Gatra.com - Indonesia tengah dihadapkan pada tantangan ekonomi yang tidak mudah. Meski saat ini berada pada posisi yang relatif baik, tetapi Indonesia masih dihadapkan pada tantangan inflasi yang tercatat telah mencapai 4,94% (yoy) per Juli 2022.

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan, menekankan, dalam menghadapi tantangan di tengah ketidakpastian ekonomi global, perlu adanya penanganan yang dilakukan secara cepat dan terintegrasi sebagaimana penanganan Pandemi Covid-19, dengan tujuan utama meringankan beban ekonomi masyarakat.

Ia menilai perlu adanya pula pertemuan secara rutin harus dilakukan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, dan Polri untuk mengantisipasi tekanan inflasi pangan maupun energi.

“Kita semua harus kompak, bersatu-padu untuk menghadapi masalah ini. Saya minta seluruh jajaran mulai dari Gubernur, Bupati, Walikota, Pangdam, Danrem, Dandim, Kapolda, Kapolres, hingga Kapolsek untuk bekerja sama dengan Kementerian/Lembaga dan BI melakukan antisipasi kenaikan harga pangan dan energi di sisa tahun 2022,” ungkapnya dalam acara Sinkronisasi Program/Kegiatan Pengendalian Inflasi Daerah yang diselenggarakan Kemendagri, Selasa (30/8).

Pada kesempatan itu, Menko Luhut turut menyinggung tentang inflasi kelompok pangan bergejolak atau volatile food mencatatkan inflasi signifikan yakni mencapai 11,47% yoy, yang didorong oleh kenaikan harga aneka cabai, bawang merah, minyak goreng, dan daging ayam ras. Ia pun menekankan kota/kabupaten dengan historis kenaikan inflasi volatile food pada akhir tahun perlu melakukan langkah antisipasi.

Sebagai informasi, dari 20 kota/kabupaten dengan inflasi year-to-date (ytd) tertinggi, 11 kota/kabupaten berlokasi di Sumatera. Sebanyak 70 dari 90 kab/kota yang disurvei oleh BPS mengalami tingkat inflasi ytd di atas nasional yakni 3,85%.

Komoditas volatile food dengan sumbangan inflasi terbesar ytd adalah cabai merah dan bawang merah. Inflasi ytd cabai merah tertinggi juga mayoritas terjadi di pulau Sumatera yakni sebanyak 19 kota/kabupaten dari 20 kota/kabupaten. Sementara inflasi bawang merah tertinggi terjadi di 7 kota/kabupaten di kawasan Sulampua, dan 6 kota/kabupaten di Pulau Sumatera.

Menko Luhut memberi arahan untuk dilakukan identifikasi dengan rinci perkiraan ketersediaan suplai sampai akhir tahun dan permintaan pangan di tiap daerah. Berdasarkan tren 10 tahun terakhir, kenaikan harga beberapa komoditas pangan perlu diantisipasi pada 4 bulan terakhir tahun kalender.

“Langkah-langkah untuk memastikan ketersediaan suplai pangan, terutama bahan pangan yang secara historis trennya akan meningkat, harus dilakukan sejak saat ini, di antaranya persiapan cold storage, penanaman di luar sentra produksi dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, dan kelancaran distribusi,” tegasnya.

Ihwal kemungkinan kenaikan BBM, Menko Luhut meminta seluruh kepala daerah untuk berkorrdinasi dengan K/L terkait alokasi bantuan sosial kepada masyarakat. “Saya minta Gubernur, Bupati, Walikota berkoordinasi dengan Kementerian Lembaga terkait mengalokasikan anggaran bantuan kepada masyarakat, melalui bantuan sosial atau subsidi terhadap sektor transportasi dan UMKM. Saya minta dipastikan bantuan dialokasikan tepat sasaran,” tegasnya.

Seperti diketahui, Pemerintah telah menyiapkan bantuan sebagai antisipasi kenaikan harga BBM. Beberapa bantuan yang disiapkan tersebut antara lain Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebesar Rp12,4 triliun yang menyasar 20,65 juta keluarga penerima manfaat (KPM), Bantuan Subsidi Upah (BSU) sebesar Rp9,6 triliun untuk 16 juta pekerja, dan juga earmark 2% dari Dana Transfer Umum sebesar Rp2,17 triliun melalui program perlinsos dan Penciptaan Lapangan Kerja.

46