Home Sumbagteng Lukman Jalani Sidang Etik ASN, Kepala Dinas Lupa Nomor SD

Lukman Jalani Sidang Etik ASN, Kepala Dinas Lupa Nomor SD

Batanghari, Gatra.com – Lukman, S.Pd.SD akhirnya menjalani Sidang Etik Aparatur Sipil Negara (ASN) akibat menolak keputusan Bupati Batanghari, Muhammad Fadhil Arief, usai pelantikan Kepala Sekolah dan Pengawas pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (PDK) Kabupaten Batanghari.

"Terkait masalah Lukman, kita berdasarkan aturan PNS itu sesuai dengan undang-undang, dia bersedia ditempatkan di mana saja. Mungkin Pak Lukman ini dari umur segala macam, dia menolak," kata Kepala Dinas PDK Batanghari, Zulpadli dikonfirmasi Gatra.com, Rabu (14/9).

Ia berujar, Sidang Etik ASN terhadap Lukman berlangsung dalam salah satu ruang Kantor Badan Kepegawaian Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BKPSDMD) Batanghari. 

"Kini sedang berproses di BKPSDMD, masih menunggu hasil. Tiga hari usai pelantikan, Lukman telah menjalani sidang etik ASN, hasilnya belum diputuskan, masih mengkaji," ucap mantan Kepala SMA Negeri 4 Batanghari ini.

Selama sidang etik berlangsung, secara ikhlas Lukman mengakui kesalahannya. Zulpadli bilang, kesalahan Lukman akibat dari penyakit yang dideritanya. 

"SD 129 ndak ya, lupa saya itu. Sebelumnya dia berdinas di Kembang Tanjung. Penyegaran lima tahun, Kepala SD 159 kalau ndak salah, nanti kita perbaiki, lupa saya," katanya.

Baca Juga: Lukman Tolak Keputusan Bupati Usai Dilantik Jadi Kepala Sekolah

Menurut Zulpadli, sebenarnya lokasi SD baru Lukman tak terlalu jauh dengan lokasi SD lamanya. "Namanya penyegaran mungkin di tempat yang baru bisa menikmati hari-hari menunggu pensiun. Masih bisa berkarya, kalau pandangan kita kan dia masih kuat, masih sehat, pandangan luar kan," ujarnya.

Dinas PDK Batanghari belum mengetahui kapan hasil Sidang Etik ASN Lukman. Pihaknya masih menunggu proses BKPSDMD. Sebab keputusan merupakan wewenang BKPSDMD Batanghari. 

"Kalau mau dekat rumah semua kan tak mungkin. Karena tempat tinggal Kepala Sekolah dengan sekolah pasti ada perbedaan. Mungkin satu sekolah itu tak ada kepala sekolah yang berdomisili di situ. Tentu ada jarak sekilo, dua kilo," ucapnya.

Penolakan Lukman usai pelantikan Kepala Sekolah dan Pengawas, menurut Zulpadli, dipicu faktor emosional dan karena penyakit saja. Karena penyataan Lukman seperti itu waktu sidang. 

"Dia terlanjur dan dia minta maaf. Sidang Etik mungkin ada dua jam diketuai oleh Sekda. Karena ASN itu Sekda pimpinan tertinggi," katanya.

Berdasarkan pantauan terakhir Zulpadli, cuma tiga orang tak hadir dalam pelantikan Kepala Sekolah pada tanggal 2 September 2022. Satu orang karena orang tuanya sakit, satu orang informasi pelatikan mungkin tak sampai. 

"Informasi tak sampai mungkin tukang sampaikan ngantar surat malam itu atau telepon dia tak aktif. Kalau satu orang lagi waktu itu karena sakit. Undangan pelantikan dari BKPSDMD," ujarnya.

Total Kepala Sekolah termasuk yang tak datang sewaktu pelantikan, kata Zulpadli, kalau tidak salah sebanyak 168 orang. Penolakan Lukman sebagai Kepala SD Negeri 128 Teluk Melintang, Kecamatan Mersam, dikutip Gatra.com melalui siaran langsung Facebook Pemkab Batanghari. Prosesi pelantikan berlangsung di Serambi Rumah Dinas Bupati Batanghari.

"Sayo hanya menyampaikan, kalau salah sayo mohon maaf karena sayo lah tuo. Mengabdi 38 tahun, mohon Pak Bupati sayo minta pertimbangan, Pak," ucap Lukman melalui pengeras suara sembari berdiri. 

"Bukan sayo tak menerima SK yang Bapak berikan hari ini. Sayo namo Lukman, S.Pd.SD. Bapak sudah kenal dengan sayo. Sayo bekawan dengan Bapak, orang tuo Bapak sejak di Tungkal," imbuhnya.

"Sayo dapat SD Negeri 128 Teluk Melintang. Apa salah sayo sebenarnya. Mengapa sayo yang korban. Setiap kali pelantikan, sayo yang korban terus. Apa sebenarnya yang terjadi, sayo mau keadilan," tanya Lukman.

"Ini pertimbangan sekarang. Minta tolong sayo mengapa sayo harus menyeberang. Dari rumah sayo naik mobil, menyeberang lagi ke seberang Pak. Ada apa sebenarnya dengan sayo," ujarnya.

Baca Juga: Dua ASN Pemprov Jateng Tertangkap Basah Saat Main 'Mobil Bergoyang'

Lukman bilang, dirinya pensiun tahun depan. Makanya dia ngotot minta penghargaan bagi pegawai negeri yang memasuki masa pensiun. Bukan sebaliknya malah dapat penempatan jauh dari domisilinya.

"Sementara sayo bulan 11 tahun 2023 pensiun. Seharusnya penghargaan bagi kami yang mau pensiun ini, malahan kami dibuang. Mohon perhitungan Pak dengan sayo. Sayo minta mohon nian sekali ini," ucapnya.

"Kalau misalnya nanti berat Bapak mau memindahkan sayo, biarlah sayo jadi guru, Pak. Saya tak ikhlas setahun ini. Karena nampaknya sayo tak mungkin berulang," tegasnya.

Tak puas hanya di situ, Lukman merembet perihal jasa anak yang kini menjabat Dosen IPDN telah berjasa membantu anak-anak orang daerah ini masuk IPDN. 

"Sementara anak orang-orang mau masuk IPDN minta bantu dengan saya. Anak saya di IPDN dosen, Pak. Tolong pertimbangkan saya. Jangan seperti ini, setiap kali pelantikan saya jadi tumbal," ujarnya.

"Bukan saya tak mau terima, seharusnya penghargaan dari tahun 84-85 jadi guru di Tungkal, sudah itu ke sini lagi. Kalau tak bisa, tolong kembalikan saya menjadi guru untuk setahun ini saya terima dengan hati ikhlas. Terima kasih Pak," tegas Lukman mengakhiri dengan salam.