Home Ekonomi Stok Beras Medium Sulit, Pedagang Ragukan Klaim Pemerintah Surplus

Stok Beras Medium Sulit, Pedagang Ragukan Klaim Pemerintah Surplus

Jakarta, Gatra.com  - Pemerintah mengklaim pasokan beras nasional surplus hingga akhir tahun. Optimisme itu bertambah dengan diberikannya penghargaan Internasional Rice Research Institute (IRRI) dan pujian Food and Agriculture Organization (FAO), kepada pemerintah Indonesia karena dianggap berhasil membuat RI swasembada beras.

Namun, suara dari kalangan pedagang beras berbeda. 

Bily, salah seorang pedagang beras di Pasar Induk Cipinang pun melontarkan kesulitannya mendapat pasokan jenis beras medium. 
Ia berkeluh kesah langsung di hadapan Para Menteri dan Pejabat yang tengah meninjau pasokan serta harga beras di Pasar Induk, Pagi ini, Senin (3/10). 

Baca Juga: Sumsel Surplus Beras, Gubernur Minta Produksi Panen Tetap Digenjot

Bily mengeluh kepada Menteri Perdagangan, Direktur Utama Perum Bulog, hingga Kepala Badan Pangan Nasional. 

Dia bilang, beras medium yang datang dari Bulog belum tiba sesuai jumlah yang diminta pedagang. Alasannya karena keterbatasan kontainer dari sumber berasnya di Sulawesi.

"Kami minta 3 ribu ton, baru ada 300 ton," ungkap Bily kepada wartawan di Pasar Induk Cipinang, Senin (3/10).

Bily menyebut, saat ini hanya Bulog satu-satunya pihak yang masih mempunyai cadang stok beras medium. Karena itu, dia meragukan klaim 'surplus' yang disebut pemerintah.

Baca Juga: Ombudsman Acungi Jempol Produksi Beras Surplus dan Tak Ada Impor

"Kalau beras surplus, cukup itu di bawah, di mana aja ada beras. Ini kenapa cuma Bulog yang ada? Berarti ini kurang beras," ucap Bily.

Dia pun menduga, kondisi saat ini akan mirip dengan krisis pasokan beras di tahun 2017. Indonesia diperkirakan akan kekurangan beras tahun ini.

"Ini bulan sepuluh (Oktober) kan ya, sampai bulan dua (Februari) loh ada panen. Tapi ini? Boleh dibuktikan ini seperti tahun 2017, akan kurang," ujarnya.

Kendati, Bily tak mengelak. Dugaan penimbunan beras medium sangat mungkin terjadi di lapangan. Ia mengaku telah melaporkan dugaan praktek kecurangan pabrik beras swasta itu. 

Perusahaan itu, kata Bily, tidak hanya memproduksi dan menjual beras, tetapi juga minyak goreng dan kebutuhan pokok lainnya. Karena itu, dia sependapat dengan pernyataan Dirut Bulog, Buwas yang menyebut masalah beras hari ini adalah ulah 'swasta nakal'.

Baca Juga: Serapan Normal, Stok Beras di Gudang Bulog Cukup

"Penimbunan, ada, dua pabrik itu saya tau. Dia belinya seenak 'udelnya dewek'. yang diomongin pak Buwas itu betul. Tapi berani nggak? Itu yang di Indonesia susah. Kira-kira berani nggak diusut bener?" tuturnya.

Bily mengaku optimistis, di bawah arahan Buwas nantinya Satgas Pangan bisa menertibkan kelakuan swasta yang diduga mempermainkan harga dan pasokan beras.

"Saya optimis kalau pas Satgas itu diperintah, apalagi ada Buwas," katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal April 2022 membuat prediksi bahwa produksi beras Indonesia pada empat bulan pertama 2022 mencapai 25,4 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka itu setara dengan 14,63 juta ton beras. 

Dengan modal produksi 14,63 juta ton beras pada periode Januari hingga Maret 2022, pengadaan beras tanpa impor di 2022 menjadi sangat mungkin, jika semua dapat berjalan normal, tak ada anomali cuaca dan ledakan hama penyakit padi.

Sebagai informasi berdasarkan sistem Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok, Kementerian Perdagangan per 30 September 2022 harga rata-rata beras medium secara nasional Rp10.700/kilogram atau naik 2,88 persen dibandingkan harga pada 1 Agustus 2022 sebesar Rp10.400/kilogram.

33