Home Lingkungan Cerita Nelayan Perempuan Ikut Terdampak Perubahan Iklim

Cerita Nelayan Perempuan Ikut Terdampak Perubahan Iklim

Jakarta, Gatra.com-Fenomena perubahan iklim membawa dampak khusus terhadap perempuan nelayan. Ketua Umum Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI), Roesinah menjabarkannya mulai dari meningkatnya frekuensi banjir rob, hingga kesulitan pengaturan keuangan yang harus dihadapi perempuan nelayan.

"Ada salah satu cerita perempuan nelayan, tentang banjir rob. Dulu di kampungnya, air rob datang satu kali dalam setahun dan hanya menggenang halaman rumahnya. Sekarang, tiap tahun banjir rob tingginya bisa sampai 90 cm," ucapnya dalam diskusi bertajuk "Nelayan Menghadapi Krisis Iklim: Quo Vadis Perlindungan Nelayan dan Pembudidaya Ikan Skala Kecil" yang digelar secara daring, Kamis (12/1).

Baca jugaPerubahan Iklim Tingkatkan Risiko Kerja Nelayan

Dulu, lanjut Roesinah, cuaca bisa dibaca para nelayan. Karena dampak iklim ini, cuaca di laut mulai tidak terbaca nelayan lagi. Ketika air rob naik setiap tahun, turut membuat frekuensi panen ikan berkurang. Bahkan mirisnya lagi, berisiko gagal panen.

Kondisi banjir rob yang berulang ini lah kemudian membawa dampak yang sangat merugikan. Banyak kerusakan yang terjadi seperti kerusakan alat tangkap, kerusakan rumah, perahu, bahkan hingga sekolah yang membuat anak-anak tidak bisa belajar.

"Ini membutuhkan biaya tinggi untuk memperbaikinya. Kalau rob terjadi 4-5 kali setahun, berapa kali melayan hrus mmperbaiki? Berapa anak yang tidak bisa sekolah karena rob? Ini harus menjadi pemikiran bersama," paparnya.

Baca jugaJatuh Bangun Antisipasi Dampak Perubahan Iklim

Selain itu, perempuan nelayan kerap dikaitkan dengan peran sebagai pengatur keuangan. Dengan semakin berkurangnya pendapatan akibat cuaca yang tidak terbaca, sering kali perempuan harus berupaya memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

"Banyak di antara mereka yang kemudian bekerja di sektor buruh informal seperti petani, asisten rumah tangga, ada yang menjual gorengan. Semua dilakukan hanya untuk bagaimana ekonomi keluarga tetap berjalan. Di sisi lain, dia juga tetap kerja domestik, pengasuhan perawatan. Jadi peran ganda dilakukan oleh prempuan nelayan," jelasnya.

Hal ini menyebabkan perempuan nelayan rentan terkena gangguan mental dan fisik. Roesinah mengatakan bahwa dampak perubahan iklim ini sangat merugikan perempuan.

"Terganggu mental dan fisik, secara psikologis cemas, bingung ketika rob tiba-tiba datang. Ada yang terkena penyakit lambung, gatal-gatal. Perempuan juga banyak mengalami gangguan kesehatan reproduksi, keputihan, tidak ada air bersih," lanjutnya.

Baca jugaTahun Kritis Perubahan Iklim, Net Zero Emission Bergeser ke 2040

Ia juga mengatakan bahwa banyak nelayan perempuan yang terjebak rentenir demi memenuhi kebutuhannya. Hal ini harus dihindari, sebab justru bisa menimbulkan masalah baru.

Untuk mengatasinya, Roesinah mendorong perempuan nelayan untuk berpartisipasi aktif dalam ruang-ruang publik maupun pengambilan kebijakan yang berkaitan dalam pemenuhan kebutuhan perempuan nelayan. Selain itu, pemanfaatan program pemerintah seperti jaminan sosial atau BPJS ketenagakerjaan harus dimaksimalkan demi mendapat jaminan yang dibutuhkan.

189