Home Hiburan CHI AWARDS 2023 Rayakan Pelestarian Budaya dan Keunggulan Seni Tari Nusantara

CHI AWARDS 2023 Rayakan Pelestarian Budaya dan Keunggulan Seni Tari Nusantara

Jakarta, Gatra.com- Yayasan Al-Maryati/AlMar Foundation kembali menyelenggarakan CHI AWARDS 2023, setelah sukses menyelenggarakan CHI Awards 2018 dalam seni Wastra Nusantara-Batik. Tahun ini, CHI Awards diberikan kepada sosok pelestari seni tari tradisional Indonesia.

“Berlandaskan pentingnya kebudayaan sebagai fondasi karakter bangsa, maka CHI Awards ini diselenggarakan sebagai apresiasi sekaligus pengingat akan sosok-sosok pegiat budaya Indonesia," kata Inisiator dan founder CHI, DR. Dewita R.Panjaitan, MARS, DrPH dalam keterangan tertulisnya, Jumat (10/11).

Menurut dia, merekalah yang sesungguhnya pahlawan dalam menghidupkan geliat kelestarian budaya sepanjang zaman. Agar tidak terlena oleh budaya luar dan untuk selanjutnya mampu diwariskan ke generasi berikut.

"Tujuan lain CHI Awards adalah sebagai media perusahaan melalui kegiatan CSR nya untuk lebih aware kepada kehidupan seni budaya Indonesia, khususnya pada sosok maupun wadah seni itu sendiri dan menjadi bagian dalam turut men-support agar warisan seni budaya Indonesia tetap terus terjaga," ungkap wanita yang karib disapa Wiwit Ilham itu.

​​​​​​Baca juga: TEMAN Gabungkan Opera dan Musikal dalam '6', Teater Musikal yang Penuh Tantangan

CHI Awards adalah sebuah penghargaan terhadap individu yang telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam melestarikan dan mengembangkan kekayaan seni budaya di Indonesia. CHI adalah kependekan dari The Cultural Heritage of Indonesia, yakni sebuah perkumpulan yang didedikasikan untuk turut serta berperan dalam melestarikan dan mengembangkan seni budaya Indonesia.

"Keberadaan CHI dalam makna energi atau nafas hidup (dalam bahasa sansekerta), diharapkan dapat memberikan Energi/Nafas bagi kehidupan Pelestarian Warisan Budaya di Indonesia. Semoga gerakan kecil ini bisa memberi manfaat besar bagi bangsa dan negara,” kata Wiwit Ilham.

Untuk mencapai tujuannya, CHI akan melakukan kerja sama dengan berbagai pihak dalam menyelenggarakan program-programnya. Indonesia dengan warisan budayanya yang kaya, memiliki banyak tarian tradisional dari seluruh penjuru nusantara, dari Sabang hingga Merauke.

Tari merupakan salah satu cabang seni yang menggunakan gerak tubuh manusia sebagai alat ekspresi. Setidaknya terdapat tiga fungsi utama tari, yakni tari sebagai "pacara ritual, tari sebagai hiburan pribadi, dan tari sebagai seni pertunjukan.

Baca juga: 'Bangku Kosong' EKI Dance Company Angkat Isu Bullying dan Kekerasan di Kalangan Anak Sekolah

Beberapa tarian ini telah mendapatkan pengakuan internasional, seperti Tari Saman dari Aceh, Tari Kecak dari Bali, dan banyak lainnya. Tarian-tarian yang sarat makna ini tidak hanya menjadi sumber kebanggaan nasional, tetapi juga berkontribusi pada identitas bangsa.

Penerima penghargaan dibagi menjadi tiga kategori yaitu: "Penerus", "Pelestari. dan Penghargaan Khusus “Amerta Askara Budaya”. Hasil diskusi ini memunculkan sederet nama-nama untuk masuk ke proses seleksi selanjutnya yang melibatkan tim Dewan Pemerhati yang terdiri dari :
-Prof. Dr. Wayan “Kun” Adnyana (Rektor ISI Denpasar, Bali)
-Dr. Nungki Kusumastuti, S.Sn., M.Sos. (Dosen IKJ, DKI Jakarta)
-Yan Stevenson, S.Sn., M.Sn (Dosen ISI Padang Panjang, Sumatra Barat)

Dewan Pemerhati ini mengidentifikasi kandidat dari berbagai wilayah di Indonesia dengan mempelajari riwayat dedikasinya terhadap seni tari nusantara melalui metode kualitatif. Para penerima penghargaan akhirnya ditentukan dan ditetapkan Dewan Pemerhati secara bersama-sama, dengan tanpa perbedaan pandangan.

- Kategori Awards Penerus Seni Tari Nusantara : Eksplorasi Seni Tari Tradisi Elly D. Lutan

Elly melakukan riset terhadap budaya Betawi yang melahirkan tari Betawi. Eksplorasinya berlanjut ke pedalaman suku Dayak (1974), Sulawesi (1975) hingga menyelami budaya suku Asmat (1986). Bersama almarhum suaminya, Deddy Lutan, penari & koreografer ternama saat itu, mereka berkarya selama kurang lebih 23 tahun membawa nama sanggar tari mereka, Deddy Lutan Dance Company (DLDC).

Pasangan ini pun sempat menampilkan para penari suku Asmat keliling Amerika Serikat pada tahun 1989. Misi mereka dalam berkarya adalah mengangkat seni budaya tanpa mencabut akar tradisinya. Karya-karya Elly lahir dari kegelisahan dan apa yang dirasakan saat itu.

Baca juga: Sepuluh Sandiwara Sastra “Misteri Nusantara” Segera Mengudara

la mengangkat tokoh-tokoh perempuan dari sudut pandang sebagai sesama perempuan. Lewat karyanya "Cut Nya" Perempuan itu Ada" (2014). Ia ingin para perempuan meneladani spirit beliau untuk dapat menempatkan diri sadar kapan dia harus di depan, di samping atau di belakang.

- Pilihan Hidup Ery Mefri - Sang Maestro Tari Minang
Kategori Penerus Seni Tari Nusantara

Nama Ery Mefri muncul ke panggung dunia pada tahun 2004 berkat peran Kementerian Pariwisata lewat Indonesia Performing Arts -ajang tahunan yang mempertemukan para seniman Indonesia dengan para manajer dan pengusaha hiburan dari mancanegara.

Tahun 2007 Kelompok Nan Jombang pertama kali diundang tampil ke Brisbane, Australia. dan dilanjutkan ke negara-negara lain. Karyanya yang paling sering ditampilkan di mancanegara adalah “Rantau Berbisik” diangkat dari kisah Ery saat merantau ke Jakarta.

Sebagai salah satu bentuk solidaritas Ery terhadap para seniman Padang, Ery menggagas festival “Galanggang Tari Sumatra” (kini menjadi KABA Festival sejak 2014) dan Festival Nan Jombang Tanggal Tiga (dilakukan tanggal 3 setiap bulannya).

“Filosofi tanggal 3 itu diambil dari pepatah Minang, "Tigo Tungku Sajarangan' yang menggambarkan 3 hubungan manusia: dengan sesama manusia (ninik mamak), dengan alam (cerdik pandai) dan dengan Tuhan (alim ulama,” jelas penerima Anugerah

Baca juga: Kisah 'Ibu' di Festival Musikal Indonesia 2023

Kebudayaan kategori Pencipta, Pelopor, dan Pembaharu dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Hukum dan HAM tahun 2016.

- Kategori Pelestari Seni Tari Nusantara, Ni Ketut Arini Sang Empu Tari Bali

Kreativitasnya mencipta tari dimulai sejak ia lulus Sarjana Muda dari Akademi Seni Tari Indonesia tahun 1973. Beberapa karya Tari Legong dia pun berhasil mendapat penghargaan. Salah satunya adalah Tari Legong Widya Lalita.

Langkah Arini menjadi pengajar pun semakin mantap ketika tahun 1979 ia diundang stasiun TVRI untuk mengisi program “Bina Tari”. Bersama sanggar tarinya “Warini” ia dipercaya untuk mengasuh program tersebut selama 20 tahun.

Mata dunia mulai melirik Arini dan sejak itu Arini banyak mendapat tawaran mengajar tari Bali dari mancanegara. Seperti ke Amerika Serikat (1999-2005) dan Jepang (2007-2018). Misinya dalam melestarikan tari Bali klasik karya guru-gurunya pun terus berjalan.

Baca juga: Menggandeng Penonton, Antara Idealisme dan Komersialisasi

Di sela kesibukannya mengajar, ia meluangkan waktu untuk menulis buku . Saat ini ia sudah menulis 2 buku, yang pertama berjudul "Teknik Tari Bali" dan yang kedua "Tari Pendet Pujiastuti" tarian karya pamannya. Tak hanya itu, Arini juga merevitalisasi salah satu Tari Bali Klasik “Baris Kekupu” (ciptaan gurunya I Nyoman Kaler dan I Wayan Rindi sekitar tahun 1930).

- Kategori Pelestari Seni Tari Nusantara, Retno Maruti

Retno mengasah kemampuannya menari dan menembang klasik Jawa dari para maestro
di zaman itu, seperti Laksminto Rukmi (penari kraton), Koesoema Kesawa, Nyai Bei Mardusari, R. Ay. Sukorini, Basuki Kusworogo dan Sutarman.
Tak hanya mampu menampilkan seni tradisi Jawa klasik dengan suatu kedalaman rasa yang kreatif, Retno juga berhasil melahirkan banyak seniman
dan penari klasik muda berbakat.

Berbagai penghargaan ia terima. Salah satunya penghargaan dari Akademi Jakarta tahun 2005 untuk pencapaian dan pengabdian dibidang kesenian/humaniora. Berkesenian tari Jawa ini mampu menembus batas-batas perbedaan, baik suku, agama, kedudukan, dan status ekonomi.

Sejak tahun 1960-an Retno mulai menari di luar negeri, antara lain di World Fair New York 1964 selama 8 bulan dan terpilih sebagai salah satu penari misi kepresidenan ke Jepang. Ketika kembali ke Indonesia, Retno pun mulai membuat karya tari pertamanya, Langendriyan Damarwulan pada 1969, sampai yang terakhir Kidung Dandaka pada 2016 .

Di usia 76 tahun, Retno masih tetap berkarya sekalipun kini gerak kakinya sudah sangat terbatas dan lebih banyak berada di belakang panggung. Seperti awal Oktober lalu Retno baru saja mementaskan kembali sendratari Roro Mendut (karya yang dibuat tahun 1977) di Singapura.

- Penghargaan Amerta Askara Budaya:

Penghargaan khusus yang akan diberikan kepada Dr. (HC) Ir. H. Sukarno yang memang dikenal luas memiliki kepedulian dan perhatian besar pada kebudayaan khususnya seni tari. Bahkan secara khusus beliau memyebut dirinya Maha Pencinta Seni.

132