Home Olahraga Tekuni Taekwondo, Bocah 7 Tahun di Padang Sabet 7 Medali

Tekuni Taekwondo, Bocah 7 Tahun di Padang Sabet 7 Medali

Padang, Gatra.com - Hutri Rici Purnama meski baru berusia 7 tahun, namun bocah perempuan ini punya prestasinya luar biasa. Siswa kelas 1 SDN 20 Binuang Kampung Dalam, Kecamatan Pauh, Kota Padang ini telah menyabet 7 medali Taekwondo di berbagai kompetisi.

"Tujuh kali juara. Wali Kota Solok Cup, Wali Kota Bukittinggi Cup, ada Mentawai juga," ucap Hutri pada Ahad (19/11) saat mengikuti "Pertemuan di Taman Bermain" halaman Istana Gubernuran Sumatera Baarat (Sumbar).

Hutri yang bercita-cita menjadi Polisi Wanita (Polwan) ini menuturkan, karena kemampuan beladirinya, tidak ada temannya yang berani merundung (mem-bully). Baik saat sekolah, tempat mengaji, maupun di lingkungan rumahnya.

Kendati begitu, Hutri tidak berbeda dengan anak-anak seusianya yang suka bermain. Termasuk sekali-kali juga main gadget milik orang tuanya. Main HP sesekali, karena dilarang mama. Tapi Hutri sering dikasih buku gambar, tuturnya polos.

Selain itu, anak pertama dari dua bersaudara ini juga mengaku pernah dimarahi kedua orang tuanya, hanya saja tidak dibentak, dicaci, apalagi dipukul. "Dimarahi karena nakal, kalau nangis disuruh diam, Hutri jadi diam," ujar bocah kelahiran 17 Agustus 2016 ini.

Prestasi yang diraih Hutri tak terlepas dari peran kedua orang tuanya, yakni Buah hati Dwi Suci Hati (29) dan Geri Purnama Putra (29). Kendati sama-sama bekerja di tempat dan waktu berbeda, namun pemenuhan hak anak selalu mereka upayakan. "Uda (suami) selalu bantu, kami sepakat kerja sama untuk berupaya memberikan yang terbaik untuk anak-anak," kata Dwi Suci Hati yang akrab disapa Uci di lingkungannya.

Dari penuturannya, Uci bekerja sebagai security di Politeknik Negeri Padang (PNP), sedangkan suami juga sebagai security dan instruktur olahraga di Sport Center Padang. Kendati begitu, keduanya punya tanggungjawab yang sama dalam membesarkan buah hati. Terutama dalam tumbuh kembang, kesehatan, dan pendidikan anak.

Bagi Uci, kedua orang tua wajib terlibat dalam membesarkan dan pemenuhan hak anak. Tak hanya dibebankan kepada seorang ibu, namun peran sosok ayah selaku kepala sekolah dalam keluarga juga sangat penting menentukan keberhasilan seorang anak. "Kami sama-sama. Kita selalu bergantian mengasuh sesuai shift libur masing-masing. Jika saya libur, saya yang mengasuh, begitu juga sebaliknya," ujar alumnus SMKN 6 Padang ini.

Selaku satuan pengamanan (satpam) perempuan di PNP,  Uci harus bersikap profesional. Tak hanya bisa menjaga lingkungan kampus, namun juga mampu menjaga kedua anaknya. Meski begitu, naluri kekhawatirannya sebagai seorang ibu tak terelakkan.

Terlebih lagi, akhir-akhir ini sering terjadi kasus perundungan (bully), bahkan pelecehan seksual terhadap anak-anak di sekolah, maupun di lingkungan masyarakat. Akhirnya, dia dengan suami membawa putri pertamanya itu ke tempat latihan taekwondo. "Kita membawa Hutri ke tempat latihan umur 4 tahun. Untungnya dia yang merengek ingin daftar, karena sering lihat orang latihan. Jadi tidak ada paksaan sama sekali," jelas eks atlet Tarung Drajat Sumbar ini.

Uci tak menampik, awalnya banyak yang mencibir terlalu kejam kepada anak karena terlalu dini latihan. Tapi menurutnya anak harus dilatih sejak dini, agar tak hanya bisa menjaga diri secara fisik namun anak juga mampu belajar mengendalikan emosi.

"Karena masih kecil, kami tidak memaksa Hutri latihan, jadi sesuka dia latihan atau tidaknya. Sekarang alhamdulillah, banyak prestasi yang diraih, tidak di-bully, bahkan dia yang nolong kalau temannya di-bully," terang Uci berkaca-kaca.

Tak hanya itu, dalam mendidik anak keluarganya tidak pernah memakai kata-kata kasar, apalagi main fisik. Baginya perilaku anak adalah ujian kesabaran, yang harus diayomi dengan memberikan pengertian dan kasih sayang, yang justru membuat anak lebih tenang.

"Pakai kata "kau" saja tidak. Kalau pakai "kau", itu tandanya anak telah melampaui batas dan paling nakal. Kita didik dengan lebih lembut, sebab takutnya kata-kata kasar ditirukan anak nantinya. Sampai sekarang kami terus belajar mendidik anak yang baik," kata anak tunggal ini.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A P2KB) Sumbar, Gemala Ranti menyebutkan, Festival Hari Anak ini pertama kali digelar Pemprov Sumbar.

Festival bertajuk "Pertemuan di Taman Bermain" yang berlangsung pada 18-19 November ini, digelar di halaman Istana Gubernur Sumbar. Tujuannya, untuk mendorong pemahaman tentang pentingnya ruang publik yang ramah anak kepada masyarakat

"Pengalaman bermain di ruang publik membentuk fondasi karakter dan keterampilan yang tidak ternilai. Anak-anak yang aktif di ruang publik memiliki peluang lebih besar untuk menjadi individu kreatif, mandiri, dan memiliki keterampilan sosial yang kuat," sebutnya.

Apalagi, selama ini banyak orang tua yang abai terhadap pola asuh anak karena sama-sama sibuk bekerja. Akibatnya tidak ada waktu senggang untuk bermain bersama buah hati. Hal ini membuat anak merasa asing dan kurang kasih sayang.

Pada kesempatan itu, Direktur Perlindungan Kebudayaan, Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek, Judi Wahyudin juga mengapresiasi gelaran ini. Apalagi juga melibatkan unsur kebudayaan, salah satunya Galanggang Arang dalam merawat kebudayaan di Tanah Air.

"Tentu sangat kita apresiasi, bahwa festival ini berhasil membuktikan bahwa istana Gubernuran Sumbar bisa menjadi ruang yang inklusif sebagai tempat bermain anak di Sumbar," ucapnya.

Kurator Festival Anak 2023, Mahatma Muhamad menjelaskan, setiap anak di Sumbar merupakan pewaris yang akan mengambil peran penting masa depan bangsa. Termasuk dalam pelestarian sekaligus kompleksitas persoalan yang mengancam atribut dan properti dari warisan budaya tersebut.

"Pengetahuan terkait kebudayaan mesti didistribusikan kepada anak di Sumbar sebagai warisan dunia yang harus dirawat, manfaatkan dan kembangkan dalam berbagai eksplorasi kerja kreatif dan penciptaan karya," tuturnya.

Untuk diketahui, Festival Hari Anak Sumbar 2023 ini dimeriahkan juga melibatkan Forum Anak se-Sumbar.  Beragam pertunjukkan, baik musik, kesenian, pantomim, teater, cerita dengeng, serta tarian dari berbagai sanggar yang ada di Sumbar. Tak hanya itu, anak-anak yang hadir festival ini juga bisa bermain dengan banyak kreativitas clay, menggambar, ayunan, dan lainnya dengan didampingi kedua orang tuanya. Festival yang dihadiri ratusan anak ini, juga bertabur hadiah menarik.

167