Home Kesehatan Sel Punca Tali Pusar Untuk Program Bayi Tabung

Sel Punca Tali Pusar Untuk Program Bayi Tabung

1563

Jakarta, Gatra.com - Memiliki anak menjadi mimpi besar para pasangan yang sudah menikah. Beragam cara dicoba, termasuk menggunakan program bayi tabung.

Namun dalam prosedur bayi tabung, ada beberapa kendala yang juga patut diperhitungkan. Misalnya, beberapa sel telur yang akan dibuahi, justru tidak matang. Hal itu akan mempersulit sperma dalam melakukan pembuahan.

Untuk melindungi supaya semua sel telur seseorang yang diambil itu kualitasnya baik, maka para dokter harus mencari cara bagaimana agar sel telur itu matang meski dalam prosedur stimulasi.

Hal itulah yang menjadi masalah dasar disertasi yang diajukan Dr.dr Kanadi Sumapradja, SpOG(K), MSc guna memperoleh gelar Doktor di Universitas Indonesia. Dalam risetnya, Kanadi mengungkapkan, prosedur stimulasi memiliki potensi untuk merusak sel-sel penunjang yang ada di sekitar sel telur.

"Apabila sel-sel yang ada di sekitar sel telur banyak yang rusak, maka proses pematangan sel telur akan terganggu," terang Kanadi kepada Gatra.com di Gedung Imeri, Jakarta, Selasa (16/4).

Dalam risetnya, Kanadi mencoba membiarkan terbuka sel-sel penunjang dengan medium atau cairan yang berasal dari sel punca agar sel-sel penunjang tidak rusak. Sel punca sendiri berasal dari tali pusar. Sel ini bisa didapatkan di bagian lendirnya.

"Jadi yang akan kita ambil produk dari sel punca. Salah satu efek produk sel punca itu berkhasiat mencegah kematian sel," papar Kanadi.

Kanadi melanjutkan, dengan membiarkan terbuka sel penunjang atau granulosa dalam kondisi kaku karena ada rangsangan obat-obatan demi bayi tabung, maka sel tersebut diharapkan bisa tetap terlindungi dari bahaya kematian oleh sel punca. Namun, penelitian ini masih diuji cobakan untuk orang-orang yang tubuhnya memberi respons normal terlebih dahulu.

"Kita melihat dulu efek awalnya. Kelihatannya ada indikasi awal yang menjanjikan. Dan ini yang akan dikembangkan ke arah respons yang buruk," papar pria berusia 51 tahun ini.

Ia menjelaskan respons yang buruk imaskudnya akan diteliti lagi. Sebab, pasien dengan respons buruk itu membutuhkan obat yang sangat besar dosisnya demi menumbuhkan sel telur. Hal ini turut menguji apakah sel punca bisa melakukan fungsinya yang melindungi sel-sel penunjang dari kematian karena stimulasi bayi tabung.

"Tinggal bagaimana kita membuat medium itu jadi lebih spesifik," tutur pria kelahiran Jakarta ini.

Yakin Terwujud

Meski penelitian dan praktik ini masih minim di Indonesia, Kanadi tak gentar meneruskan penelitiannya. Ia meyakini percobaan ini bisa ia selesaikan dan diaplikasikan. Ia memang mengakui penelitiannya itu masih belum matang dalam pemetaan komposisi sel punca itu sendiri. Artinya, baik isi maupun kadarnya, belum diteliti secara spesifik.

"Kita butuh penelitian lagi untuk memetakan, kira-kira komposisi dan kadarnya seperti apa," akunya.

Kendati begitu, Kanadi berharap penelitian ini bisa menjadi alternatif baru dalam menjawab masalah program bayi tabung.

"Terlebih kepada pasien yang mengalami kesulitan dalam aspek respon terhadap obat-obatan penyubur dan juga pasien yang meski punya respon baik terhadap obat penyubur, namun sel telurnya tidak matang," tandasnya.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS