Home Ekonomi Teh Hangat Ritual Komunitas

Teh Hangat Ritual Komunitas

Menikmati teh menjelma menjadi gaya hidup. Ada sekelompok orang secara serius menghabiskan waktu dan uang demi menggeluti seluk beluk teh. Bercita-cita meningkatkan apresiasi terhadap teh agar lebih berkelas layaknya kopi. 

GATRAreview - Ratna Somantri tak bisa berhenti mencecap secangkir teh hangat yang ia genggam. Bagi wanita kelahiran Cirebon, 35 tahun silam, teh merupakan minuman istimewa. Seringkali, teh ia jadikan pembuka obrolan hangat ketika bercerita dan bertukar pikiran dengan teman dan kolega. Mulai dari aroma, rasa, hingga budaya dan kota asal teh tersebut, terbayang ketika ia menyeruputnya.

Teh benar-benar membuatnya jatuh cinta. Indonesia punya sejarah panjang tentang teh. Mulai zaman penjajahan hingga pasca-kemerdekaan, masyarakat Indonesia telah akrab dan menggantungkan hidup pada teh. ''Sejarah teh di Indonesia sangat panjang. Teh yang membiayai negara di awal-awal kemerdekaan,'' tutur Ratna.

Kecintaan pada teh membuatnya merasa perlu membentuk sebuah komunitas. Bersama teman baiknya, sesama anggota Komunitas Jalan Sutra, Bambang Muhtar Rusdianto, pada 2007 Ratna berinisiatif mendirikan sebuah komunitas bagi para pecinta teh yang diberi nama Komunitas Pecinta Teh. Salah satu aktivitas komunitas ini ialah berkumpul bersama sekitar satu atau dua bulan sekali untuk melakukan tea testing.

Pertemuan biasanya berlangsung di sebuah kafe. Uniknya, mereka tak mau pesan teh ditempat mereka berkumpul. Melainkan menyeduh teh yang mereka bawa sendiri. ''Karena kita kan punya agenda tea testing, jadi kita punya syarat tempat ketemunya harus yang memperbolehkan kita menyeduh teh sendiri,'' ujarnya. Mulai dari teh lokal hingga teh asal Cina, India, Jepang dan lainnya mereka cicipi bersama.

Masih menurut Ratna, ide mendirikan komunitas berawal dari kecintaan keluarganya terhadap teh. Sejak kecil, Ratna yang berdarah Sunda-Tionghoa punya tradisi minum teh bersama keluarga. Saat itu, ia hanya tahu kalau teh ya begitu-begitu saja rasanya. Hingga suatu waktu, ia tak sengaja mampir ke sebuah kafe di Australia bernama Tea Centre yang sediakan sampai 500 jenis teh. Momen itu membuatnya sadar bahwa ternyata teh punya banyak ragam jenisnya.

Setelah itu, ia semakin tertarik mempelajari teh. Sampai-sampai ia berinisiatif mengambil kursus tentang teh di Purple Cane, Kuala Lumpur. Ratna juga sengaja memilih destinasi liburan ke negara-negara penghasil teh seperti Cina, Jepang, dan Korea untuk sekaligus mempelajari teh. Hasilnya, Ratna sering didaulat menjadi tea speaker. Berceloteh tentang seluk-beluk teh dalam seminar maupun forum lainnya. ''Beberapa perusahaan sering meminta saya berbicara tentang teh, saya juga diminta menjadi Ketua Bidang Promosi teh Indonesia oleh Dewan teh,'' ujar Ratna.

Untuk tetap menjalin komunikasi antar-anggotanya, Komunitas Pecinta Teh memakai mailing list sebagai wadah utama untuk ngobrol. Bambang merupakan salah satu moderator dalam grup tersebut. Kini anggota mailing list Komunitas Pecinta Teh sudah mencapai 600 orang. Sementara anggota di facebook ada sekitar 1.300, dan di group Whatsapp ada 30 anggota. Mereka terdiri dari para pecinta teh, orang-orang yang ingin belajar teh, hingga para pengusaha teh, termasuk para petinggi perusahaan seperti Sosro, dan merek teh populer di Indonesia lainnya. Namun, dari seluruh anggota itu Ratna mengaku hanya sekitar 100 orang yang aktif.

Sementara itu, acara gathering dan tea testing biasanya dihadiri sekitar 30 anggota. ''Soalnya, susah menyeduh teh untuk banyak orang, ngobrol-nya juga kurang intim kalau terlalu ramai,'' ujar Ratna. Salah satu lokasi yang pernah beberapa kali menjadi tempat kumpul komunitas itu adalah Kedai Teh Lare Solo yang terletak di Bogor, yang tak lain merupakan milik Bambang, co-founder komunitas.

Pada 2011 silam, Bambang memutuskan berhenti dari pekerjaannya di industri manufaktur dan memilih terjun ke bisnis teh. Profesi barunya ini membuahkan dua kedai teh di Bogor serta racikan khas yang ia suplai ke kafe secara online. ''Melalui komunitas ini saya mempunyai kesempatan memperluas jaringan. Dan passion saya terhadap teh jadi lebih tinggi. Akhirnya, saya keluar dari pekerjaan dan mendirikan kedai teh,'' tuturnya. Kini Bambang mampu menghasilan netto sekitar Rp 30 juta per bulan dari bisnis tehnya. Ia menjual produk teh hasil racikannya dengan merek 'Kedai teh Lare Solo'. ''Pasar saya adalah para penikmat teh (tea connoisseur), yang merupakan kalangan menengah ke atas,'' ujarnya.

Memudahkan pemasaran, Bambang membagi pasar konsumen teh ke dalam tiga jenis yaitu, urban pop, executive moderate, dan tea connoisseur. Urban pop, untuk pasar orang-orang yang maunya serba praktis. ''Ini pasarnya teh celup dan ready to drink. Sosro, Sariwangi, dan beberapa merek besar Indonesia main di situ,'' ujar pria asal Solo itu. Executive moderate lebih mengarah kepada gaya hidup. ''Biasanya mereka gemar minum teh dari luar negeri,'' tuturnya. Sedangkan tea connoisseur merupakan orang-orang yang sangat mengerti akan teh dan lebih memberikan perhatian kepada kualitas. ''Mereka ini suka membeli teh dari berbagai wilayah. Tidak peduli merek dan harganya,'' ujar Bambang.

Sayangnya, Ratna menilai konsumsi teh di Indonesia masih sangat rendah. Saat ini Indonesia berada di peringkat 46 konsumsi teh dunia, dengan konsumsi 210 gram per orang per tahun. Tingkat konsumsi teh tersebut masih kalah dibandingkan Malaysia yang tiga kali lipat lebih tinggi dan Inggris 10 kali lipat lebih tinggi. ''Saya berharap orang-orang jadi lebih punya apresiasi terhadap teh. Harus seperti kopi yang sudah jadi gaya hidup,'' katanya.


Sandika Prihatnala dan Mira Febri Mellya

 

Budaya Moci Khas Slawi

Satu poci tanah liat, satu cangkir, dan sebungkus teh 10 gram. Kuswatun, 45 tahun, meraciknya menjadi minuman teh poci yang hangat, segar, manis, sekaligus sensasi sepet. Ia menggelar dagangannya persis di depan Stasiun Tegal. ''Ini minuman khas Tegal,'' katanya. Sudah 12 tahun ia jajakan teh poci di sekitar Stasiun Tegal. Sepoci, dijual Rp 6.000 bersama jagung dan pisang bakar. Satu poci bisa untuk 5-6 cangkir. ''Semalam rata-rata laku enam poci,'' kata Kuswatun.

Teh merek Tong Tji, produksi perusahaan Teh Dua Burung, Tegal, menjadi andalannya. Dilengkapi foto hitam putih sang pendiri ''Tan See Giam'', sebungkus teh kemasan kuning kecil sebesar kotak korek api dituang seluruhnya ke poci dan diisi air panas. Penyajiannya khas: bungkus sisa teh ditutupkan ke mulut poci. Sepotong gula batu ditaruh dalam cangkir. Ketika dituang, uap meruap dari teh. Aroma wanginya tipis, teh terasa segar, manis, dan sepet.

Di sini ada istilah teh poci ''wasgitel'' singkatan dari wangi, panas, sepet, legi, lan, (dan) kentel (kental). Artinya, teh panas, manis, wangi beraroma melati dan berwarna hitam pekat/kental. Semakin berkurang seduhan teh dalam poci, menyisakan ampas teh, dan gula batu di cangkir menyusut, sensasi sepet makin terasa. ''Satu bungkus teh untuk satu poci dan dipakainya gula batu dan bukan gula pasir menguatkan rasa teh,'' tutur Kuswatun.

Konon, Tegal sudah lama dikenal dengan budaya moci. Bahkan, sebuah tugu yang disebut Tugu Poci dibuat khusus sebagai tanda masuk ke wilayah Slawi. Selain itu, ada nama Taman Rakyat Slawi Ayu, sebuah ruang publik yang dipenuhi merek teh. Di situ terdapat tulisan, ''Slawi Kotaku, Teh Cap Poci Minumanku''. Selain merek ini, ada tiga merek teh lain yang membangun pabriknya di Slawi: yakni Tong Tji, 2 Tang, dan Teh Gopek.

Sayang, saat GATRA mengunjungi Slawi, kedai kopi yang khusus moci sudah semakin jarang. Cuma satu-dua lapak yang tampak menjajakan, termasuk lesehan Kuswatun tadi. Namun, tidak diragukan lagi bahwa Slawi adalah kota yang tumbuh karena teh. Hampir semua kedai makan dan warung tenda itu, bahkan hotel serta pos polisi, ''disponsori'' produk teh.


Sandika Prihatnala dan Arif Koes Hernawan (Slawi)

 

Rupa Cerita Pencicip Teh

Pencicip teh, atau dikenal sebagai tea taster bisa dibilang profesi langka di Indonesia. Karena itu, tak banyak ahli di bidang ini. Makin berpengalaman, makin berkualitas teh yang ia cicipi. Bayarannya pun mahal. Maklum saja, profesi ini mengandalkan indra pengecap dan penciuman yang mumpuni. Butuh waktu untuk mengasahnya.

Salah satunya, Miriam Setyowati. Posisi resminya General Manager PT Gunung Subur Sejahtera, Solo, produsen teh merek Gardoe dan Kepala Djenggot. Nenek keturunan Tionghoa dengan dua anak dua cucu ini menyembunyikan usianya --yang sekira 60-an. ''Tapi awet muda dan sehat karena setiap hari minum teh,'' katanya.

Miriam bergabung dengan GSS sejak 1975. Ia mulai menjalani karier dari bawah hingga sampai pada profesi sebagai tea taster GSS. ''Setiap enam bulan dikalibrasi,'' katanya. Kalibrasi, mirip seleksi awal menjadi taster. Mereka disuguhi beberapa cangkir seduhan teh dan harus bisa bedakan wanginya. Baik mentah, atau sudah diseduh. Sebab, setiap teh punya karakter tersendiri. ''Meski sulit, rasa teh harus dideskripsikan,'' katanya.

Seorang taster berpengalaman, menurut Miriam, harus bisa membedakan jenis teh dan merek sampai menentukan manfaat. Taster juga harus fokus dan menjaga kesehatan lidahnya. Karena itu, harus pantang makan makanan ekstrem seperti makanan pedas dan minuman aneka rasa. ''Istilahnya, tidak minum oplosan,'' katanya sambil tertawa.

Selain Miriam, ada juga pencicip teh bernama Syarifah. Besar dari lingkungan pengusaha teh, Syarifah mengenal teh sejak kecil. Kakeknya, seorang pengusaha teh asal Bandung, memiliki perkebunan di wilayah Dago. Usaha teh diwariskan turun-temurun dalam keluarga besarnya. Tidak mengherankan jika sejak kecil Syarifah gemar minum teh dan mengetahui perbedaan rasa dan aroma teh dari berbagai wilayah. ''Awalnya dari hobi minum teh. Lidah jadi terbiasa dan peka,'' katanya. Baginya, tugas tea taster sederhana: menikmati teh. Namun ada standar yang harus dipenuhi seperti merasakan tingkat asam amino dan anti-oksidan.

Syarifah mengungkap, gaji tea taster di perusahaan miliknya sekitar Rp 7,5 juta. Ia mengaku tak tahu standar gaji untuk profesi ini di Indonesia. Ia hanya menyesuaikan dengan kesanggupan perusahaan yang dipimpinnya. ''Tergantung jam terbang,'' ujarnya. Selain menjadi tea taster di PT Arafa Asia, Ifah juga sering diminta untuk menjadi tea taster beberapa perusahaan teh dalam negeri. Bayarannya puluhan juta untuk sebuah produk. ''Bisa lebih mahal. Saya belum ada apa-apanya,'' katanya. Masih, menurut Ifah, tak semua orang memiliki kemampuan sebagai tea taster. Sehingga kerap terjadi bajak-membajak tea taster antar-perusahaan teh. Namun baginya itu bukan masalah. Tandanya, makin banyak yang cinta teh.

Sebagai tea taster, Syarifah mengaku enggan merujuk kepada pakem-pakem kualitas teh dari teh luar negeri. Jepang misalnya, teh dengan rasa sepet (asam) dianggap teh kelas bawah. Sementara teh Indonesia cenderung pekatdan memiliki asam tinggi karena tumbuh di bawah sinar matahari berlimpah. Begitu juga dengan Eropa. Standar mereka menyulitkan. Sehingga ada kesan teh Indonesia jelek dan membuat tidak percaya diri. ''Padahal mereka menyerap ekspor teh kita. Itu politik dagang,'' tutur Ifah.


Sandika Prihatnala, Mira Febri Mellya, dan Arif Koes Hernawan (Solo)