Home Ekonomi Rumah Kopi Sumsel Kembalikan Pamor Kopi Bumi Sriwijaya

Rumah Kopi Sumsel Kembalikan Pamor Kopi Bumi Sriwijaya

 

Palembang, Gatra.com – Memiliki luasan tanaman kopi mencapai 250.397 hektar (ha) menjadikan provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) sebagai penghasil kopi dengan luasan terbesar di Indonesia saat ini.

Pada 20 tahun silam, puluhan pengusaha kopi juga berkumpul di bumi Sriwijaya ini dengan mengoptimalkan kopi robusta sebagai komoditas ekspornya. Lambat laun, akses transportasi sungai Musi semakin dangkal sehingga kopi lebih banyak diangkut melalui jalur darat ke provinsi tetangga Sumsel. Hal ini berimbas pada indentitas kopi Sumsel lenyap dan berganti nama wilayah yang mengelolahnya. Selama itu pula, kopi-kopi hasil bumi dimana kerajayaan Sriwijaya berjaya, lebih dikenal dengan nama lain meski masuk ke pasar manca negara.

Keinginan mengembalikan pamor kopi Sumsel terus digalakkan. Berdasarkan hasil kajian dan survei yang dilaksanakan Bank Indonesia, perwakilan Sumsel dibutuhkan langkah hilirisasi produk unggulan lokal guna menjaga stabilitas ekonomi daerah, seperti kopi. Selain meningkatkan pendapatan masyarakat petani, pengoptimalan produk unggulan berperan bagi ekonomi daerah. BI Perwakilan Sumsel memulainya dengan memperbaiki sisi hulu, yakni merevitalisasi kebun-kebun kopi sejak dua tahun terakhir.

Kepala BI Perwakilan Sumsel, Yunita Resmi mengatakan pengoptimalan produk unggulan sebagai solusi agar roda ekonomi daerah terus tumbuh. Di kabupaten Muara Enim, pihaknya mengenalkan program sambung pucuk tanaman kopi Robusta dengan Arabika agar menghasilkan kopi lebih beragam, berkualitas dan berharga tinggi.

“Tujuan kita, bersama pemerintah dan pihak lainnya berupaya bagaimana kopi Sumsel lebih berkualitas. Memperbaikinya mulai dari budidaya tanaman, sarana produksi, penyuluhan kepada petani binaan, terutama proses panen petik merah,” ujarnya, Sabtu (27/7).

Terdapat lima kota/kabupaten yang dibina oleh BI dalam peningkatan mutu dan kualitas kopi Sumsel, diantaranya kabupaten Muara Enim, Pagaralam, OKU, Lahat, dan Empat Lawang. Daerah-daerah ini ialah penghasil kopi terbesar di Sumsel. Dengan luasan 250.397 ha, Sumsel telah mampu menghasilkaan 184.166 ton kopi dalam bentuk biji kering.

Dari hasil petani kopi binaan ini, BI Perwakilan Sumsel menginisiasikan berdiri rumah kopi sumsel. Terletak di kawasan pariwisata jantung kota Palembang, rumah kopi Sumsel menjadi unit promosi kopi Sumsel di Palembang.

Di rumah kopi yang sudah beroperasional sejak Maret lalu, kopi-kopi Sumsel dikenalkan berdasarkan nama keberadaan kebunnya, seperti kopi Muara Enim yang lebih dikenal dengan kopi Semendo, kopi Pagaralam, kopi OKU, kopi Lahat dan kopi Empat Lawang. Selain mengenalkan kopi dalam bentuk biji, di rumah kopi yang berada di pelataran Benteng Kuto Besak (BKB) tersebut juga disediakan kopi dalam sajian siap minum.

“Rumah kopi ialah pasar bagi petani-petani binaan, selain memperbaiki kualitas tanam dan panen. Rumah kopi menjadi bagian hulu, promosi kopi, dan menjadi destinasi wisata kuliner baru minum kopi di Palembang,” terangnya.

Dukungan keberadaan rumah kopi ini, kata Yunita sangat besar dari pemerintah daerah. Misalnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) menyediakan gedung yang sangat stregis di kawasan pusat wisata kota Palembang. Lokasi gedung sangat mudah dijangkau masyarakat karena sering dipergunakan sebagai panggung terbuka rakyat serta alun-alun kota, rumah kopi sumsel bernilai strategis mengenalkan kopi Sumsel lebih luas.

Selain itu, di lokasi ini pun diperuntukkan bagi pertemuan pihak-pihak yang berkecimpung dalam dunia kopi di Sumsel, seperti komunitas barista, perkumpulan petani kopi, Dewan Kopi Sumsel, atau perkumpulan para penikmat kopi.

Makin Ramai Dikunjungi

Setelah diresmikan tiga bulan lalu, rumah kopi Sumsel banyak didatangi oleh pengunjung dari luar kota Palembang, terkhusus Sumsel. Pengunjung, kata Pengelola Rumah Kopi Sumsel, Hendra Susanto terlebih dahulu menyicip sajian olahan kopi-kopi Sumsel, dan akhirnya memutuskan membeli dalam bentuk kemasan biji. Di rumah kopi Sumsel ini disediakan pilihan varian minuman seperti cappuccino, coffee black, coffee late, dan espresso baik dalam suguhan hangat dan dingin. Sementara untuk biji kopinya, rumah kopi Sumsel menjual jenis robusta seharga Rp190.000/kg dan jenis arabika seharga Rp300.000/kg, dengan banyak pilihan berat kemasan.

“Sejak diresmikan, pengunjung makin mengenal jika Sumsel merupakan penghasil kopi yang tidak kalah enak dan nikmat. Misalnya, Sumsel sudah memiliki arabika Semendo yang rasanya tidak kalah dengan jenis arabika yang sudah lebih terkenal dari Pulau Sumatera,” ujar Hendro.

Salah satu pengunjung, Adithia Sunggara mengatakan lokasi yang strategis sangat mendukung keberadaan rumah kopi Sumsel yang diinisiasikan oleh Bank Indonesia. Berada di tengah kawasan pariwisata membuatnya mudah dijangkau dan memudahkan saat tamu-tamu dari luar Palembang yang ingin minum kopi sekaligus berwisata. “Di rumah kopi ini, wisatawan bisa duduk lama menikmati keramaian BKB, tiupan angin Sungai Musi sehingga menikmati lezatnya kopi Sumsel,” ujarnya.

Pamor Kopi Sumsel Ingin Terus Dikenal

Saat peresmian rumah kopi Sumsel ini juga dilakukan penandatangan kerjasama (MoU) pengembangan komoditas kopi antara Bank Indonesia, Bea Cukai wilayah Sumatera bagian Timur,dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia.

Gubernur Sumsel, Herman Deru mengatakan kopi ialah komoditas unggulan perkebunan di Sumsel yang berperan penting bagi devisa negara. Sebenarnya, hampir semua kabupaten/kota terdapat tanaman kopi, namun lima kota/kabupaten yang menjadi sentra produksi kopi di Sumsel. “Memandang kopi tidak boleh parsial, tapi bagaimana kopi menjadi industri daerah dengan melibatkan banyak pihak, juga pihak-pihak yang MoU tadi. Saya mengapresiasikan upaya pengembangan kopi Sumsel agar pamornya terus dikenal,” ungkapnya, April lalu saat peresmian.

Ia pun berharap Sumsel tidak hanya dikenal sebagai penghasil kopi dalam bentuk biji, namun bisa dikembangkan dalam bentuk lebih menarik, seperti bubuk minuman, atau parfum sekalipun. Keberadaan kebun kopi yang luas, merupakan aset Sumsel yang harusnya bisa lebih dioptimalkan bagi ekonomi daerah. “Perlu produk hilirisasi kopi, misalnya menghidupkan kafe, kedai, etalase kopi dan kajian kopi lebih banyak di Sumsel juga membangun infrastukur transportasi,” ujarnya kemarin.

Ketua Dewan Kopi Sumsel (DKS), Zein Ismed mengatakan pengembangan komoditas kopi masih banyak pekerjaan rumah, akan tetapi potensinya sangat besar karena pasar dunia tengah membutuhkannya. Luasan tanaman kopi besar menjadi potensi Sumsel guna menjawab kebutuhan pasar dunia, yang harus diimbangi kerjasama banyak pihak, terutama inisiasi pengaku kepentingan.

“Luasan kopi ini ialah potensi besar Sumsel, namun memang produksi dan pasar kopi Sumsel belum tertata baik, terutama dukungan akses transportasi. Baik dari hulu dan hilir kopi butuh kerja keras banyak pihak, mulai dari sisi budidaya, tanaman kopi Sumsel membutuhkan peremajaan karena banyak tanaman tua, metode budidaya yang diperbaiki yakni pasca panen dengan petik merah, sampai dengan kualitas pengelolaan yang lebih optimal, pasar dan promosi yang lebih luas, baik di daerah maupun di luar negeri,” ungkapnya.

 

 

 

930