Home Kalimantan Terkendala Letak Geografis dan Blankspot, Cakupan Imunisasi di HST Terus Ditingkatkan

Terkendala Letak Geografis dan Blankspot, Cakupan Imunisasi di HST Terus Ditingkatkan

Barabai, Gatra.com- Wajah Najematul Husna, Ketua Posyandu Melati, Desa Walatung, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Provinsi Kalimantan Selatan berbinar ketika menceritakan pengalamannya sebagai salahsatu kader Posyandu.

"Di Walatung ada tiga Posyandu di beri nama Angsana, Harapan dan Melati," ujar perempuan yang akrab disapa Husna itu kepada Gatra.com, Jumat (15/4)

Dia bertutur, kesadaran warga Desa Walatung untuk membawa bayi dan balita ke Posyandu sangat tinggi. Berbanding bengkok 10 tahun sebelumnya.

"Dulu banyak masyarakat enggan membawa anaknya ke Posyandu untuk diimunisasi. Penyebab utamanya termakan kabar bohong alias hoax. Imunisasi disebut bisa bikin lumpuh dan autis," katanya.

Hal itu bukannya membuat Husna dan teman - temannya patah arang. Segala upaya mereka lakukan untuk menarik minat masyarakat bertandang ke Posyandu. "Kami berikan penjelasan secara pelan dengan data yang mudah dipahami. Alhamdulillah mereka bisa mengerti," ujar Husna lirih.

Selain sarana kesehatan untuk buah hati, Posyandu juga dijadikan ajang silaturahmi. "Kami arisan di Posyandu. Bayi dan anak - anak yang datang diberikan buah - buahan dan snack yang nilainya Rp15 ribu per orang. Kami bangga ikut membantu pemerintah meningkatkan cakupan imunisasi di desa," ujarnya.

Setiap kegiatan Posyandu, Husna dan kader lainnya mendapatkan honor masing - masing Rp150 ribu. "Honor ini meningkat 50 persen, sebelumnya dikasih Rp100 ribu tiap kali kegiatan," ujarnya.

Kepala Desa Walatung, Murhani mengaku bangga dengan kader Posyandu yang bekerja tanpa lelah meningkatkan cakupan imunisasi. "Tahun depan, honor mereka kami tingkatkan lagi. Honor diambil dari dana desa," cetusnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan HST, Mursalin mengungkapkan, cakupan imunisasi bayi dan balita terus ditingkatkan dan menjadi skala prioritas.

"Selama pandemi Covid-19, layanan di Posyandu dihentikan menghindari kerumunan, namun kami tetap melaksanakan imunisasi dengan inovasi jemput bola. Kader Posyandu dan petugas kesehatan datang ke rumah warga yang punya bayi dan balita," ujarnya.

Mursalin berujar, di HST masih banyak desa yang letaknya terpencil seperti di Kecamatan Hantakan dan Batang Alai Timur. Untuk menuju desa tersebut banyak kendala yang dihadapi terutama saat musim hujan.

"Alhamdulillah, kami mendapat bantuan tenaga kontrak dari provinsi dengan penugasan khusus melayani kesehatan masyarakat daerah terpencil. Jumlahnya 17 orang dan sudah bertugas selama dua tahun," terangnya.

Kendala lainnya, tambah Mursalin, jaringan internet yang lelet dan ada yang masih blankspot. "Itu sama sekali tak menyurutkan semangat tenaga kesehatan yang bertugas. Semangat justru terus berkobar, kendala itu tidak dihiraukan, mereka terus berjuang membantu cakupan imunisasi di daerah terpencil," ujarnya.

Mursalin menyebut, cakupan imunisasi pada tahun 2019 sebanyak 3.567 orang atau 91,58 persen dan di tahun 2021 menurun di angka 3.167 orang atau 76,60 persen.

Sekda HST, Muhammad Yani mengungkapkan, untuk meningkatkan cakupan imunisasi, Pemkab telah melakukan penguatan database penduduk terutama untuk bayi yang baru lahir. "Integrasi dengan Dinas Dukcapil, RS Daman Huri Barabai, RS Permata Bunda Kandangan dan dengan semua bidan desa. "Ini kami lakukan agar tidak ada bayi dan balita yang terlewatkan dalam kegiatan imunisasi," ujarnya.

Selain upaya itu, beber Yani, kunjungan ke Posyandu intens dilakukan secara terjadwal melalui Dinas Kesehatan. "Kita terus pompa dan support semangat mereka kader Posyandu di semua desa di HST agar herd immunity segera terbentuk," tukasnya.