Home Regional Pertahankan Kebutuhan Pangan, Pemdes Pondok Jateng Dirikan Lumbung Sayur

Pertahankan Kebutuhan Pangan, Pemdes Pondok Jateng Dirikan Lumbung Sayur

Sukoharjo, Gatra.com – Ketahanan pangan merupakan suatu kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi rumah tangga. Kondisi itulah yang mendorong Pemerintah Desa Pondok, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, membuat lumbung sayur.

Sekretaris Desa Pondok, Santosa, mengatakan, lumbung sayur ini digagas setelah muncul program dari Presiden Joko Widodo, bahwa desa harus membuat program ketahanan pangan.

“Hasilnya bisa dimanfaatkan oleh semua masyarakat Desa Pondok,” katanya saat ditemui di lokasi lumbung sayur, Kamis (29/9).

Baca Juga: Belajar Konsep Lumbung dari Masyarakat Rawang

Lumbung sayur ini menggunakan lahan kosong dengan luas hampir 1.000 meter. Lahan yang digunakan inipun menurutnya tidak produktif. Sehingga pengolahan lahan dimulai dari 0, tahap pengerukan hingga pembuatan.

“Pengelolaan dan perawatan diserahkan ke KWT (Kelompok Wanita Tani). Setelah ini tinggal pengawasaan,” bebernya.

Pelaksana kegiatan, Wahyudi mengatakan jenis sayuran yang ditanam, yakni tomat, terong, pare, gambas atau oyong, lombok hijau besar, kacang panjang, bayam, sawi dan kangkung. Baru dua bulan berjalan, mereka sudah memanen bayam, sawi dan kangkung. Hasil panenan pertama ini dibagikan kepada warga Desa Pondok.

“Bibitnya kita buat sendiri, langsung kita tanamkan,” kata Wahyudi.

Baca Juga : Agung Hendriadi : Konsumsi Pangan Lokal Kita Sehat

Sedangkan hasil panen berikutnya akan dijual ke warga dengan harga dibawah harga pasaran. Setelah terjual, hasilnya akan dibagi, 60 persen ke anggota KWT dan 40 persen masuk ke kas pendapat asli desa (PAD) Pondok.

“Anggaran membuat ini kita habis sekitar Rp166 juta, semua dari nol. Anggaran itu diambil dari dana desa,” kata Wahyudi, yang juga menjabat sebagai Kasi Kesejahteraan Desa Pondok tersebut.

Baca Juga: Ketahanan Pangan, Indonesia Butuh Klaster Pangan Lokal

Meskipun sudah panen, namun masih tetap ada kendala. Kendala dalam hal ini lantaran lahan baru yang semula tidak produktif.

“Karena tanah baru ini susah, susahnya air turun ke bawah terus langsung meresap. Beda kalau dari awal tanah produktif kita lebih mudah,” ungkapnya.

219