Home Ekonomi Importir Kedelai AS Bakal Dapat Sertifikat Protokol Jaminan Keberlanjutan

Importir Kedelai AS Bakal Dapat Sertifikat Protokol Jaminan Keberlanjutan

Jakarta, Gatra.com – Importir kedelai Amerika Serikat (AS) kini akan menerima sertifikat Protokol Jaminan Keberlanjutan Kedelai (Soy Sustainability Assurance Protocol/SSAP), termasuk di Indonesia dan dapat mengalihkannya kepada pihak konsumen hingga sebanyak empat kali.

U.S. Soybean Export Council (USSEC) dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Minggu (2/10), menyampaikan, kebijakan ini menjadi penting bagi para konsumen kedelai AS di seluruh dunia, termasuk di dalam negeri yang telah lama mendorong wujud transparansi yang lebih luas dalam keberlanjutan atas produk yang mereka beli.

Perubahan pada SSAP yang diusung oleh Soy Export Sustainability, LLC, yang sebagian didanai oleh dewan kedelai nasional AS, memungkinkan konsumen untuk menyimpan pencatatan atas pembelian kedelai AS yang berkelanjutan.

Selain itu, konsumen dapat memanfaatkan pembelian tersebut untuk pemenuhan tujuan Lingkungan, Sosial, dan Tatakelola (ESG), serta melaporkan perkembangannya atas pencapaian tujuan tersebut.

Baca Juga: Badan Pangan Nasional Soroti Produksi Gandum dan Kedelai di Tengah Terganggunya Rantai Pasokan Pangan

Menurut Dessislava Barzachka, EA Sustainability Execution Manager, Bunge, kunci utama dari komitmen mereka dalam menerapkan rantai pasokan yang bertanggung jawab terletak pada kepastian pasokan produk yang berkelanjutan.

Dia melanjutkan, pihaknya terus berupaya melakukan peningkatan dalam penerapan sertifikasi SSAP, didukung dengan metodologi yang transparan dan kredibel dalam mengukur kinerja yang berkelanjutan.

“Sertifikat yang dapat dialihkan [ditransfer] merupakan elemen kunci pada konsumen kami dan bisnis kami untuk melacak dan memverifikasi bahwa produk kedelai yang kami pasok telah dibudidayakan dalam cara yang berkelanjutan, yang mendorong keberlanjutan yang lebih kuat pada sistem pangan global," katanya.

Sertifikat SSAP yang dikembangkan di 2013 merupakan pendekatan agregat terverifikasi, diaudit oleh pihak ketiga, yang melakukan verifikasi produksi kedelai yang berkelanjutan dalam skala nasional.

Sistem ini dirancang untuk menjaga keseimbangan berskala besar atas kedelai berkelanjutan yang terverifikasi dalam setiap transfer (pengalihan). Di samping itu, kalkulasi pemrosesan industri juga terpadukan di dalam sistem tersebut. Lembaga yang menerbitkan dan melacak sertifikat tersebut adalah Soy Export Sustainability, LLC.

Dalam jangka pendek, perubahan ini dapat memenuhi kebutuhan para pembeli untuk menunjukkan komitmen mereka dalam memasok kedelai yang berkelanjutan, namun di jangka panjang perubahan ini dapat mendorong permintaan atas produk mereka, yang didasari oleh preferensi konsumen pada produk-produk yang berkelanjutan.

Di bawah panduan SSAP, petani kedelai AS secara terus menerus meningkatkan kinerja keberlanjutannya dan memastikan produk yang lebih berkelanjutan di masa depan. Kedelai AS telah dikenal sebagai produk dengan jejak karbon paling rendah dibandingkan kedelai yang dihasilkan dari kawasan lain.

Lebih jauh lagi, lanjut dia, SSAP juga mencakup audit pertanian yang dilaksanakan oleh pihak ketiga yang independen, yaitu Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA). Baru baru ini, SSAP telah meraih Silver Level Equivalence pada kesempatan benchmark dengan Farm Sustainability Assessment (FSA) 3.0 yang diusung oleh Sustainable Agriculture Initiative Platform (SAI Platform).

Di samping itu, kata dia, SSAP juga mendapatkan penilaian positif atas benchmark dengan panduan pasokan produk kedelai dari European Feed Manufacturers Federation (FEFAC) melalui lembaga International Trade Centre yang independen.

Baca Juga: Kementan Bersama Pelaku Usaha Suplai Kedelai Untuk Pengrajin Tahu dan Tempe

“SSAP juga diakui oleh Sustainable Soy Sourcing Guidelines dari Consumer Goods Forum dan juga Best Aquaculture Practices dari Global Seafood Alliance,” ujarnya.

Abby Rinne, Director of Sustainability, U.S. Soybean Export Council (USSEC), menyampaikan bahwa petani kedelai AS memiliki komitmen yang kuat terhadap keberlanjutan, sehingga pihaknya senantiasa mencari berbagai upaya untuk dapat mendukung usaha dalam melakukan verifikasi terhadap produk mereka.

“SSAP mampu melakukan fungsi tersebut, namun kini dengan sertifikat yang dapat ditransfer dan dialihkan, hal itu membolehkan verifikasi tersebut diteruskan kepada konsumen mereka," katanya.

USSEC merupakan pendiri dan anggota dari Soy Export Sustainability, LLC yang berfokus pada upaya diferensiasi dan peningkatan preferensi produk, sekaligus meraih akses pasar untuk kedelai AS.

101