Home Hukum Lapas Suliki Bakal Disulap, Dari Hapus Tato Napi Hingga Berbasis Pondok Pesantren

Lapas Suliki Bakal Disulap, Dari Hapus Tato Napi Hingga Berbasis Pondok Pesantren

Padang, Gatra.com Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Suliki, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat menyiapkan program hapus tato bagi narapidana (napi), atau warga binaan.
 
Kita sedang mengagendakan program hapus tato bagi Warga Binaan Pemasyarakatan, kata Kepala Lapas Suliki, Kamesworo kepada Gatra.com di Padang, Senin (5/12).
 
Kendati masih dalam proses persiapan mekanisme dan pengadaan alat penghapus tato, dia optimis program ini bisa terlaksana. Tujuan posotifnya tak hanya bagi warga binaan, tapi juga untuk menghilang kesan menyeramkan bagi masyarakat.
 
Selain itu, Kamesworo juga akan menjadikan Lapas Suliki berbasis pondok pesantren. Warga binaan bakal dimana secara mental dan spiritual. Dengan harapan, setelah bebas warga binaan tersebut bisa menjalani kehidupan normal kembali.
 
"Kita sangat berharap, setelah dibina dengan basis pondok pesantren, bisa menjadi modal bagi warga binaan. Jauh dari tindakan kriminal setelah bebas," ujarnya.
 
Menurutnya, Lapas Suliki harus menjadi percontohan wilayah Sumbar. Baginya, lapas harus banyak memberikan edukasi dan pelatihan skill, dan ilmu agama bagi warga binaan, dan tidak lagi terkesan menyeramkan seperti yang terjadi selama ini. 
 
Dalam menyukseskan program ini, pihaknya bakal menggandeng Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat. Terlebih lagi, alumnus SMAN 6 Padang ini, warga binaan di Lapas III Suliki saat ini dihuni 93 orang mayoritas beragama Islam. 
 
"Kalau dulu, warga binaan disiksa dan dianiaya. Kalau sekarang harus benar-benar dibina. Jadi setelah keluar, mereka punya skill dan pengetahuan. Tak kriminal lagi," ulangnya.
 
Terkait 93 orang warga binaan di Lapas III Suliki ini, mantan Kasi Binadik Lapas IIA Karawang ini mengungkapkan, 92 orang beragama Islam. Sementara alasan puluhan warga binaan ini dipidana, 40 persen karena terjerat kasus narkoba.
 
"Mudah-mudahan wacana positif ini terealisasi tahun 2023 nanti. Apalagi bulan suci Ramadan Maret tahun depan sudah dekat," pungkas Kamesworo.
67