Home Gaya Hidup Nano Riantiarno, Teater, dan Perjalanan Panjang Menolak Titik

Nano Riantiarno, Teater, dan Perjalanan Panjang Menolak Titik

Jakarta, Gatra.com - Telepon berdering, seorang teman menelepon. Orang itu adalah Fuad Arkan, belakangan dia ikut tampil dalam dua pementasan Teater Koma. Di sambungan telepon tersebut dia bertanya, “Bang, cari Majalah Gatra yang baru di mana? Kita mau evaluasi, Om Nano minta dicarikan Majalah Gatra yang ada ulasan Roro Jongrang kemarin,” kata Fuad.

Om Nano yang dimaksud adalah pendiri sekaligus sutradara Teater Koma, Nobertus Riantiarno atau akrab disapa Nano Riantiarno. Nama ini bukan nama asing di dunia teater Indonesia. Sejak tahun 1977, Nano dan Teater Koma sudah malang melintang dari panggung ke panggung.

Saat lakon Roro Jongrang ditampilkan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, pada 14-16 Oktober 2022 lalu ada pemandangan yang sedikit berbeda. Nano terlihat duduk di atas kursi roda menyaksikan lakon racikannya itu. Usai pertunjukan, Nano pun tidak bisa melayani permintaan wartawan untuk melakukan wawancara. Sang istri, Ratna Riantiarno, mengatakan bahwa Nano harus beristirahat.

Tak ada yang menyangka bahwa lakon Roro Jongrang menjadi lakon terakhir Nano bersama Teater Koma. Pagi ini, sebuah kabar duka datang menyatakan bahwa Nano telah berpulang. Kabar ini membawa duka yang luas pada dunia teater dan hiburan Tanah Air. Terlebih karena seniman serba bisa yang tutup usia di 73 tahun ini sudah memberikan banyak sumbangsih bagi dunia seni Indonesia.

Baca Juga: Teater Koma Hadirkan Lakon Roro Jonggrang di Taman Ismail Marzuki

Nano cukup lama terkapar sakit. Ia didiagnosa terserang kanker paru-paru dan sempat menjalani rawat inap di RS Kanker Dharmais sejak 27 Desember 2022. Sebelumnya, ia dilarikan ke ICU RS Fatmawati akibat di tumor pahanya.

Nano Riantiarno, yang lahir di Cirebon 6 Juni 1948, ini sukses menjadikan Teater Koma sebagai salah satu kelompok teater terproduktif di Indonesia. Sebagai catatan, lakon Roro Jongrang adalah pementasan ke 225 Teater Koma. Lalu, pentas-pentas Teater Koma sebelumnya dikenal sering digelar lebih dari 2 minggu, bahkan pernah berpentas lebih dari satu bulan.

Sebelum mendirikan Teater Koma, Nano bergabung dengan Teater Kecil pimpinan Arifin C. Noer. Hal ini terjadi saat ia masih berkuliah di ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia). Di Teater Kecil, ia bertemu dengan lawan mainnya di panggung yang akhirnya menjadi pendamping hidupnya, Ratna Riantiarno.

Nano lalu bergabung dengan Teater Populer bentukan sutradara legendaris, Teguh Karya. Pada tahun 1977, Nano dan 11 seniman, bertekad mendirikan sebuah kelompok teater. Prioritas utamanya adalah ingin mencari wujud dan isi yang lebih kaya warna dibandingkan teater yang sudah ada sebelumnya.

Pada awal Agustus 1977 pentas pertama Teater Koma dilangsungkan di Teater Tertutup TIM. Lakon yang dibawakan berjudul Rumah Kertas yang merupakan karya dari Nano dan disutradarai Teguh Karya.

Dalam catatannya di website resmi Teater Koma, Nano mengatakan bahwa pasti ada banyak kekurangan dalam pentas Rumah Kertas. Walau begitu, karena Teater Koma adalah sesuatu yang baru, Nano ingin berupaya membuat pertunjukkan yang bisa dipahami masyarakat umum bukan kalangan seniman saja.

“Ketika hal itu terus terjadi, teater menjadi ‘benda yang aneh’. Seakan ada di dalam lemari besi terkunci, sulit dijamah dan dijauhi,” tulis Nano.

Baca Juga: JJ Sampah Kota, Teater Koma Hidupkan Lagi Naskah 40 Tahun

Jika apa yang disajikan teater tidak dimengerti oleh masyarakat, jangan masyarakat yang disalahkan. Sebaiknya semua itu ditilik lagi, berulang kali, mengapa sampai tidak dipahami. “Mungkin ada bagian yang magol dan tak komunikatif. Atau mungkin, hasil keseniannya buruk,” tuturnya.

Di Teater Koma Nano bertindak sebagai penulis, aktor, dan sutradara. Ketika usianya tak lagi muda, ia hanya bertindak sebagai sutradara dan penulis. Melintasi berbagai zaman, Teater Koma mampu bertahan dari masa-masa ketika ekspresi seni dibatasi oleh negara pada rezim pemerintahan orde baru.

Dalam catatan, Teater Koma sempat dilarang mementaskan lakon Maaf.Maaf.Maaf. pada 1978, Sampek Engtay pada 1989 di Medan, Suksesi dan Opera Kecoa pada 1990 di Jakarta. Bahkan, pementasan ini pun tidak diberi izin pentas keliling ke Jepang. Namun setahun kemudian, dipentaskan dengan judul “Cockroach Opera” oleh Belvoir Theatre di Sydney, Australia. Namun, menghadapi masa kelam ini Teater Koma mampu bertahan. Menjadikannya perjalanan panjang tanpa mengenal titik.

Nano juga banyak mendapat penghargaan dari skenario-skenarionya. Ia empat kali berturut-turut meraih hadiah sayembara penulisan naskah drama Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada 1972-1974, lalu pada tahun 1998. Selain menulis untuk lakon panggung, Nano juga sering menulis naskah untuk film dan televisi.

Skenarionya untuk serial Kupu-kupu Ungu mendapat penghargaan penulis skenario terpuji dari Forum Film Bandung pada 1999. Ia juga mendapatkan piala citra FFI 1978 untuk skenario terbaik lewat film Jakarta Jakarta.

Beberapa naskah film yang ditulisnya adalah Kawin Lari (1974), Ranjang Pengantin (1974), Surat Undangan (1975), Perkawinan dalam Semusim (1976), Dorce Ketemu Jodoh (1990), Cemeng 2005 (The Last Primadona) (1995) yang sekaligus disutradarainya, dan Mengejar Embun ke Eropa (2016). Peraih SEA Write Award dari Raja Thailand pada 1998 ini juga pernah menulis skenario untuk salah satu judul film Warkop DKI, Sama Juga Bohong (1986).

66