Home Gaya Hidup Ihwal Science Film Festival 2021 dan Rendahnya Tingkat Literasi Indonesia

Ihwal Science Film Festival 2021 dan Rendahnya Tingkat Literasi Indonesia

Jakarta, Gatra.com - Goethe Institut kembali menggelar Festival Film Sains (Science Film Festival) di Indonesia pada tahun ini yang akan digelar secara daring mulai dari 12 Oktober-30 November 2021. Kali ini, festival tersebut bertema “Kesehatan dan Kesejahteraan”.

“Isu kesehatan dan kesejahteraan kian penting pada masa ini dan kelak setelah pandemi berakhir,” kata Direktur Regional Goethe Institut untuk Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, Dr. Stefan Dreyer, dalam konferensi pers virtual pada Selasa, (12/10/2021).

“Sebab itulah, pembahasan isu-isu ini secara terbuka menjadi penting pada masa sekarang, dan mengapa Science Film Festival 2021 mengarahkan fokusnya kepada sains kesehatan dan kesejahteraan melalui sejumlah film internasional terpilih mengenai topik-topik itu dan topik-topik sains lainnya. Kemajuan dan pembangunan takkan mungkin tanpa sains,” imbuh Dreyer.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Hilmar Farid, berharap Science Film Festival 2021 ini bisa menjadi inspirasi.

Pengangkatan tema-tema saintifik atau ilmiah barangkali sepintas tampak berat. Akan tetapi, Hilmar yakin tujuan memperkuat perangai ilmiah di tengah masyarakat, terutama pada benak anak-anak Tanah Air, bisa tercapai apabila pendekatannya dilakukan dengan cara yang menyenangkan.

“Itu tentu akan sangat baik kalau didekati dengan cara-cara kreatif, memberi akses, memberi jalan, kepada anak-anak muda, untuk menikmati sains. Jadi, tidak hanya belajar sebagai bahan di sekolah, tetapi bisa betul-betul melihat kegunaan dan merasakan manfaatnya dengan cara-cara yang menyenangkan,” ujar Hilmar.

Walau begitu, upaya mempromosikan sains kepada anak-anak Indonesia tersebut tampak menemui jalan terjal. Pasalnya, tingkat literasi Indonesia di skala global terbilang rendah.

Pada Maret 2021 lalu, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) RI mencatat sebuah temuan survei dari Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pada tahun 2019 silam.

Temuan survei tersebut menunjukkan bahwa Indonesia menempati ranking ke-62 dari 70 negara yang disurvei terkait tingkat literasi. Dengan demikian, Indonesia berada di posisi 10 terbawah dunia.

Melansir laman resmi Kemendagri, rendahnya tingkat literasi bangsa Indonesia itu sendiri ditengarai disebabkan oleh masyarakat Tanah Air yang dinilai hanya berkutat pada sisi hilir saja selama berpulu-puluh tahun.

Menurut Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Muhammad Syarif Bando, sisi hilir tersebut maksudnya adalah masyarakat itu sendiri yang terus-menerus dihakimi sebagai masyarakat yang masih rendah minat bacanya.

“Otomatis karena diklaim sebagai bangsa yang rendah budaya bacanya, maka rendah pula indeks literasinya,” ujar Syarif.

Menanggapi persoalan ini, Dreyer mengakui bahwa bagi Goethe Institut—penyelenggara Science Film Festival 2021—tingkat literasi Indonesia yang rendah menjadi tantangan tersendiri dalam mengenalkan sains kepada anak-anak Indonesia.

“Itu benar-benar menjadi tantangan, tapi menurut saya penting juga untuk menghadapi tantangan itu,” ujar Dreyer.

“Salah satu motif dari Science Film Festival ini juga adalah bahwa Anda tidak hanya mempromosikan sains melalui buku teks sekolah, tetapi juga melalui pendekatan-pendekatan berbeda. Salah satunya pendekatan visual seperti yang kita gunakan dalam film dan saya pikir pendekatan ini akan berhasil menarik perhatian,” tutur Dreyer.

“Di samping itu, saya juga memberi kepercayaan sepenuhnya kepada para pengajar di sekolah-sekolah mitra kami,” ujar Dreyer.

Senada dengan Dreyer, Hilmar juga mengungkapkan bahwa tingkat literasi Indonesia yang rendah menjadi tantangan tersendiri. Ia menyebut bahwa rendahnya literasi tersebut berpengaruh kepada perkembangan sains di Indonesia.

“Tetapi justru ini memang menjadi tantangan tersendiri. Apakah kita harus secara linear mengikuti garis: membaca, literasi, numerasi? Baru [setelah itu] masuk ke sains. Atau apakah kita juga bisa mengambil jalan berbeda dengan cara memperkenalkan sains dengan cara-cara yang tidak konvensional, dengan cara-cara yang kreatif?” ujar Hilmar.

“Tentu tujuannya dari Science Film Festival ini bahwa kita sejak awal, sedini mungkin kalau bisa, memperlihatkan keasyikan menggeluti sains. Jadi, saya melihatnya nggak sebagai suatu proses yang linear bahwa itu harus bertahap-tahap, tetapi bisa jalan berbarengan dan mudah-mudahan melalui festival ini tujuan tersebut dapat dicapai,” jelas Hillmar.

Rektor Unika Atma Jaya, Agustinus Prasetyantoko, juga senada dengan keduanya. Ia menilai bahwa Indonesia memang sedang menghadapi masalah rendahnya tingkat literasi tersebut.

“Saya kira tantangan ini sangat real. Artinya realistis. Kita memang punya tantangan ini, soal literasi. Tetapi saya menggarisbawahi saja bahwa kita perlu, pertama, menemukan cara-cara baru untuk melakukan literasi,” ujar Agustinus.

“Tapi yang kedua yang juga penting yang juga dilakukan di Science Film Festival adalah youth, kelompok muda. Itu saya kira penting juga. Artinya, ya, masa depan adalah orang-orang muda dan kalau kita sedari dini melakukan edukasi, melakukan literasi, dengan cara-cara yang kreatif kepada mereka, itu harapannya ya 10-15 tahun lagi kita akan punya generasi yang memang lebih literate, lebih tercerahkan, begitu, dalam banyak hal, dalam hal sains dan seterusnya,” tutur Agustinus.

Science Film Festival 2021 ini hanyalah sejumput usaha, dari sekian banyak usaha lainnya, untuk meningkatkan tingkat literasi Indonesia di tingkat dunia. Namun, seperti yang Agustinus katakan, hasilnya tak akan serta-merta terlihat segara. Butuh belasan tahun untuk menikmati hasilnya. Dengan demikian, upaya meningkatkan tingkat literasi Indonesia merupakan upaya yang panjang dan akan memakan waktu yang tak sebentar.

 

401