Home Ekonomi Musim Kemarau, Petani Garam Untung Melimpah

Musim Kemarau, Petani Garam Untung Melimpah

Lombok Barat, Gatra.com - Musim kemarau merupakan halangan terberat bagi petani konvensional, tapi tidak bagi petani garam. Kemarau tahun 2019 ini justru membawa berkah bagi petani garam di Dusun Bertong, Desa Cendi Manik, Kecamatn Sekotong, Lombok Barat.

Musim kemarau menjadi musim suka cita bagi para petani. Ini bias dibuktikan dengan hasil panen yang melimpah pada tahun ini. Bukan sekadar hasil panen, tapi juga kualitas garam yang jauh lebih bagus. Dengan cuaca yang bersahabat serta penerapan sistem geoisolator dari program Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lombok Barat, tahun ini para etani optimistis bisa panen hingga 5 kali.

Baca juga: Garam Berkualitas, Petani NTB Bisa Belajar di Lombok Barat

Jika tahun lalu para petani hanya menghasilkan 5 ton per satu petak, namun dengan adanya integrasi lahan panen menjadi lebih meningkat, sekarang satu petak dapat menghasilkan 7 ton.

“Kalau sekali panen ini kita dapat sekitar 100 ton yang lima petak. Ukuran satu petak itu panjangnya 33 x 3,3 meter. Sekarang ini lebih besar panennya,” ujar Mahyudin, Ketua Kelompok Petani Garam Bertong kepada Gatra.com, Jumat (6/9).

Mahyudin menargetkan, dari 47 petak ini, bisa menghasilkan 7.700 ton. Kata dia, untuk panen kedua nanti, bisa optimis mencapai 1.000 ton.

Menurutnya, dengan penerapan sistem geoisolator tahun ini dirasa sangat bermanfaat. Dengan sistem ini, hasil panen garam tidak ada yang terbuang percuma, karena semua dapat diambil bersih. Selain kualitasnya terjamin, kadarnya juga bagus untuk industri.

Petani garam di Dusun Bertong ini bisa bernapas lega, lantaran petani garam yang ada di NTB bisa menggunakan garam milik Bertong Bersatu untuk kebutuhan industri. Saat ini pun, PDAM Giri Menang yang menggunakan dan mengambil langsung untuk kebutuhan sterilisasi air.

Sedangkan untuk komersialisasi, pihak koperasi yang menangani langsung. Harga per kilo sebesar Rp3.500 bagi kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN). Sedangka non-ASN dihargakan Rp1.000.

Baca juga: KKP : Garam Rakyat Bisa Dipakai Industri Aneka Pangan

“Saat ini kami memiliki dua kelompok tani dengan anggota 30 orang anggota. Masing-masing kelompok terdiri dari 15 anggota,” ujar Mahyudin.

Menurutnya, petani garam per anggota bisa mendapatkan Rp3 juta dalam sebulan. Dulu, petani garam sangat merasa kesulitan terutama soal marketing. Namun sekarang setelah ada binaan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Lombok Barat, petani garam khusunya di Dusun Berong, bisa senang dengan hasil melimpah dan distribusi penjualan bisa berjalan maksimal.

626