Home Ekonomi Diskursus Pemindahan Ibu Kota, Konsep Kota Bukan Karya Seni

Diskursus Pemindahan Ibu Kota, Konsep Kota Bukan Karya Seni

“Sebuah kualitas yang bahkan lebih buruk dari sebuah ketidakteraturan dan kualitas yang buruk ini adalah sebuah topeng dari ketidakjujuran dari peraturan yang semu, yang dicapai dengan mengabaikan atau menindas masyarakat yang sedang berjuang untuk eksis dan dapat dilayani”. – Jane Jacobs

 

GATRA Review – Bagaimana memahami konsep kota dalam kerangka arsitektur dan sosial? Kota memiliki nilai yang selalu berhubungan dengan teori sosial dan ekonomi. Lebih dari itu, kota juga menyimpan estetika atau nilai keindahan bagi masyarakat pengagumnya. Setidaknya itu yang menjadi materi dikusi webinar “What Is A City: Urban Planning and Spontaneous Order” yang diselenggarakan oleh Institute for Democracy and Economic Affairs (IDEAS) bekerja sama dengan PT Provalindo Nusa pada Selasa (14/7).

Sanford Ikeda, Profesor Ekonomi di Purchase College, The State University of New York bertindak sebagai pembicara dan memulai presentasinya dengan kalimat historis “Kota Bukanlah Sebuah Karya Seni” (A City Cannot Be A Work of Art). Ikeda menjelaskan diskusinya dengan merujuk pada dua referensi terkenal tentang arsitektur kota yang dikarang oleh Jane Jacobs. Kedua referensi itu antara lain “The Economy Of Cities”dan “The Death and Life of Great American Cities”.

Ikeda menjelaskan definisi kota sebagai sebuah pemukiman yang dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang bersumber dari sistem ekonomi yang dijalankan oleh masyarakatnya sendiri. Menurutnya terkadang terjadi tradeoff antara kemajuan kota dengan pencapaian ekonomi. Kota yang indah dan menakjubkan belum tentu mempunyai nilai yang tinggi secara fungsi ekonomi.

“Sebuah kota yang hidup tidak akan efisien secara standar ekonomi,” ujar Ikeda. Ia menjatuhkan definisi kota dalam perannya mendukung pertumbuhan ekonomi dan tidak semata pada fungsi pengembangan budaya bahkan karya seni. “Bila kita melihat sebuah kota atau kawasan, seolah-olah itu hanya masalah arsitektural. Namun perlu dipahami bahwa usaha untuk menggantikan kehidupan menjadi barang seni adalah suatu kesalahan besar,” ungkapnya.

Ikeda mencontohkan beberapa arsitektur dunia yang memiliki kemegahan dan fungsi sebagai karya seni. Misalnya bangunan Piazza yang terletak di Siena, Italia. Nilai artistik dari bangunan tua itu kini banyak dikunjungi oleh warga setempat dan pelancong dari luar yang ingin menikmati keindahan kota. Bangunan yang tak lazim dengan teknik rancangan yang tinggi menjadikan Piazza sebagai referensi utama bagi para pecinta arsitektur.

“Piazza yang ada di kota tua yang didesain tidak beraturan namun di sisi lain terlihat berinteraksi satu sama lain dengan terlihatnya orang-orang yang memenuhi jalan. Ada sebuah pola interaksi antar individu di dalamnya,” ujar Ikeda.

Bangunan itu menurutnya dibangun dalam posisi yang unik dan miring. Akan tetapi posisi arsitektur yang tak lazim tersebut justru memberi “warna” pada nilai bangunan. Mereka yang berkeliling di sekitar bangunan memiliki aktivitas yang beragam mulai dari swafoto, piknik, duduk lesehan di taman, serta melakoni kegiatan yang serius. “Selain itu ada interaksi yang muncul dari orang-orang yang ada di dalam bangunan tersebut,” katanya.

Selain itu ada Hudson Yards, bangunan mewah dan tinggi yang terletak di Manhattan, New York City. Real estate megah tersebut menjadi kebanggaan warga Amerika Serikat. Ikeda mengatakan persoalan klasik yang ditemukan pada kota-kota besar termasuk Amerika adalah persoalan kemacetan dan keramaian. Kondisi pandemi Covid-19 turut memengaruhi tingkat kunjungan ke kota-kota tersebut.

“Kita ambil contoh New York City sebagai contoh dalam persebaran Covid-19. Dimana terdapat angka penularan yang besar di antara orang-orang dalam lingkungan. Hal ini tidak baik jika ada pandemi ke depannya, maka hal yang ditawarkan adalah pembangunan Subway Tunnel [kereta bawah tanah] untuk meminimalisir hal tersebut,” katanya.

Selain kota-kota yang berhasil mengundang decak kagum, Ikeda juga menguraikan arsitektur kota yang acak dan sembrono. Ia mencontohkan kegagalan arsitektur Palm Island di Dubai, Kowloon Walled City dan Giga Project dari “Kota Hantu” di Cina. Kota-kota tersebut sering dianggap sebagai kota mati, jauh dari hiruk pikuk dan suasana perkotaan. Serta kegagalan desain kota mendatangkan pengunjung ke lokasi tersebut.

“Untuk menghidupkan sebuah kota, dalam setiap esensi kehidupan kota, setiap pelakulah yang akan menyumbangkan interaksi dari pembentukan kota itu dibandingkan keseluruhan rencana pembangunan,” katanya.

Palm Island Dubai meski cantik dari jauh namun tidak ada interaksi sosial yang bisa dilihat dari dekat. Sementara Kowloon Walled City dilihat dari jauh suasana kotanya terlihat berantakan dan tidak rapi. “Kowloon muncul dari kompleksitas dan spontanitas dari interaksi penghuninya sehingga di dalamnya terlihat lebih hidup dan organis”.

Ia mengutip pendapat pakar rancang bangun Harvard, Rem Koolhaas yang mengatakan terdapat kompetisi dari potensi bencana dan keruwetan dari sebuah kota dengan kemampuannya menghindari bencana yang muncul dari inovasi dan kreativitas. “Apabila keruwetan tersebut dicabut maka inovasi dan kreativitas tidak akan muncul,” katanya.

Selain menjelaskan panjang lebar tentang keberhasilan kota membangun interaksi, Ikeda juga sempat menyinggung tentang indikator perlu tidaknya pemindahan ibu kota. Seperti diketahui, isu pemindahan ibu kota juga relevan dengan rencana pemerintah Indonesia yang akan memindahkan pusat ibu kota ke Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Prof. Ikeda mengatakan terdapat beberapa pertanyaan yang harus terjawab dari pemindahan ibu kota ke wilayah baru. “Dalam hal pemindahan [ibu kota], pertanyaan yang harus terjawab adalah apa yang ingin dicapai? Apakah pemindahan ibu kota untuk motif yang utama seperti keselamatan lingkungan dan lain-lain, atau hanya untuk pemerintahan semata”.

Ia mengatakan terdapat beberapa faktor pendukung yang harus diperhatikan bila pemindahan ibu kota direalisasikan. “Jika memang ibu kota baru ditempuh 2 jam perjalanan atau lebih, maka prioritas utama bukan membangun kota dulu. Namun pembangunan untuk mobilitas, perkembangan ekonomi, aksesbilitas untuk penghuni, dan kondisi kota yang nyaman dan layak huni. Jika hal-hal tersebut tidak tersedia, maka tentu kota yang direncanakan tersebut akan menjadi kota hantu,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Center for Market Education (CME), Carmelo Ferlito menambahkan konsep kota yang baik memperhatikan sustainability dan aksesbilitas. Ia mengatakan tidak mungkin kota akan stabil (steady state) bila jauh dari fungsi ekonomi. “Perlu diperhatikan apakah pemindahan ibu kota ke wilayah baru sesuatu yang efektif. Misalnya untuk pengurusan berkas bisa menghabiskan waktu 2 jam ke kota baru. Ini jelas tidak efisien,” katanya.

Faktor-faktor lain seperti menghindari polusi dan menurunkan tingkat emisi seringkali jadi alasan pemindahan ibu kota. Carmelo menyebutkan dirinya setuju bila kota dipandang dalam entitas yang terhubung dengan fungsi ekonomi dan kemudahan akses bagi masyarakat. “Bagaimanapun konsep kota yang baik tidak mengabaikan peran ekonomi dan aktivitas bisnis jangka panjang,” pungkasnya.

359