Home Lingkungan YPHI: Angka Deforestasi yang Objektif Sangat Diperlukan

YPHI: Angka Deforestasi yang Objektif Sangat Diperlukan

122

Jakarta, Gatra.com - Kontroversi berita tentang deforestasi hutan Indonesia beberapa waktu lalu patut diluruskan dalam diskusi terbuka para pihak secara objektif dan independen tanpa kepentingan. Secara umum data Kementerian LHK dengan keunggulan sumber daya manusia, sistem dan perangkat teknologi serta data yang lebih terkuasai dengan detil tentu lebih bisa dipercaya.

Secara logikapun rilis Kementerian LHK beberapa waktu lalu bahwa angka deforestasi turun dari 426.000 hektare pada 2018-2019 menjadi 115.000 hektare di 2019-2020 tampak bisa dipahami. Persoalannya Greenpeace dan sangat mungkin ada pihak-pihak yang baru-baru ini mengeluarkan data yang berbeda yang konotasinya melemahkan data pemerintah, beraroma politis. Bahkan konon berbuntut pelaporan ke polisi yang menambah panas permasalahannya.

"Tanpa mengurangi penghargaan atas kerja keras Menteri LHK beserta jajarannya, kita berharap data resmi pemerintah itu benar dan nyata. Selama ini banyak data yang simpangsiur muncul dari berbagai pihak yang bisa jadi disusun dengan tujuan, metoda dan waktu yang berbeda. Diduga dilansir sesuai kepentingan sumber data", kata Dr. Transtoto Handadhari, Ketua Umum Yayasan Peduli Hutan Indonesia (YPHI), kepada Gatra.com (16/11).

"Apalagi saat-saat ini kepentingan politik sangat menguasai serta diyakini apabila benarpun masing-masing tetap nampak bias, tidak objektif", lanjut mantan Kepala Pusat Informasi Kehutanan tahun 2004-2005, dan Dirut Perum Perhutani 2005-2008 itu.

Menurutnya, mulai dari pengertian apa yang dimaksud deforestasi, obyek dan tujuan pendataan, metodologi, maupun waktu pengambilan data, bahkan verifikasi pengsmbil data serta penjelasannya harus secara komprehensif disepakati bersama. Sehingga akan dihasilkan data nyata yang tidak debatable yang (saat ini) bisa berpotensi merugikan pemerintah.

Transtoto juga menggambarkan bahwa deforestasi sangat layak turun antara lain karena kayu hutan sudah menipis dan semakin hauh jarak aksesnya, tidak menariknya bisnis jual kayu hutan, dua tahun ini ada pandemi covid-19, serta sempat turunnya harga produk perkayuan dunia. Illegal logging-pun menurun cukup tajam.

Menururut mantan planolog kehutanan itu secara kebetulan alam juga telah membantu dengan turunnya hujan lebat di hampir sepanjang musim sejak 2015 yang cukup efektif menurunkan tingginya tingkat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Namun upaya pemerintah dan pihak swasta yang telah gencar semakin terbantu dan mampu menurunkan kasus-kasus kebakaran sampai sekitar 80 persen tetap patut diapresasi. Transtoto yang sedang merancang praktik program adopsi pohon (tree adoption) besar-besaran bersama lembaga KOPRABUH juga mempertanyakan mengapa sudut positif masalah reforestasi dan afforestasi tidak ditonjolkan? "Penghutanan kembali dan berkembangnya penghijauan oleh rakyat sangat penting diketahui, serta diprogramkan dengan lebih terukur dan nyata," katanya. 

"Kami YPHI sedang berusaha membantu pemerintah mencari terobosan pendanaan, serta akan membangun Brigade Hijau Nusantara membasmi luasnya lahan kosong dan sensitif bencana", kata rimbawan senior itu terkait pentingnya pengendalian emisi karbon dan kebutuhan oksigen saat ini melalui penanaman pohon yang diharapkan paling mampu memperbaiki kelestarian ekosistem dan kekayaan bio-diversitas. 

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS