Home Info Sawit Indonesia Dapat Optimalkan 613 Ribu Ha Lahan Sawit untuk Biodiesel

Indonesia Dapat Optimalkan 613 Ribu Ha Lahan Sawit untuk Biodiesel

Jakarta, Gatra.com – Yayasan Madani Berkelanjutan mencatat, luas izin usaha sawit di Indonesia mencapai 22,2 juta hektar (ha) per tahun 2020. Setelah memperhatikan aspek ekologi, potensi konflik, dan fokus tutupan lahan, masih tersisa lahan seluas 1,16 juta ha diizin sawit.

Secara rinci, ada sisa lahan sebanyak 470,7 ribu ha di Kalimantan Timur, 392,3 ribu ha di Kalimantan Tengah, 95,6 ribu ha di Kalimantan Barat, dan 21,6 ribu ha di Kalimantan Utara. Kemudian, sejumlah 36,5 ribu ha terletak di Jambi, 36,1 ribu ha di Sumatera Selatan, serta 29,4 ribu ha di Papua.

“Ternyata dari luasan 1,16 juta hektar ini, masih terdapat banyak tumpang tindih. Hal tersebut meliputi beberapa izin, yang paling besar terhadap izin minerba 264,6 ribu hektar,” ungkap Geographic Information System (GIS) Specialist Yayasan Madani, Fadli Ahmad Naufal, pada Rabu (17/11).

Fadli menambahkan, seluas 222,4 ribu ha tumpang tindih dengan izin migas, 91,1 ribu izin usaha pengelolaan hasil hutan kayu hutan tanaman industri (IUPHHK HTI), dan 61,1 ribu ha IUPHHK pada hutan alam. Selain itu, ada 19,4 ribu ha food estate singkong, 7,5 ribu ha PIPPIB, serta 5,2 ribu ha perhutanan sosial bersertifikat.

“Kalau lahan ini kita filter lagi yang memang tidak tumpang tindih, maka yang tersisa itu sekitar 613 ribu hektar. Itu adalah area detail izin sawit saat ini, yang kemungkinan clean dan clear terhadap izin konsesi yang memang betul-betul dikeluarkan,” imbuhnya.

Menurut Fadli, luasan lahan tersebut bisa dioptimalkan jika sawit menjadi pilihan untuk feedstock bahan bakar nabati (BBN) biodiesel. Terlebih, beberapa komoditas lain yang dikembangkan untuk BBN masih menghadapi tantangan yang perlu disiapkan, dengan tetap mempertimbangkan aspek lingkungan dan komitmen mitigasi perubahan iklim.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengklaim, program biodiesel 30 (B30) telah menghemat devisa hingga Rp56,24 triliun pada tahun 2021. Kemudian, juga meningkatkan nilai tambah (CPO menjadi biodiesel) sebesar Rp11,26 triliun dan mengurangi emisi gas rumah kaca sebanyak 24,4 juta ton setara CO2.

Diketahui, kontribusi energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran energi primer 2020 baru mencapai 11,2% dari target 23% di tahun 2025. Sebanyak 35% kontribusi EBT tahun 2020 berasal dari pemanfaatan biodiesel (B30).