Home Apa Siapa H Mutahar Ajudan Soekarno, Pencipta Lagu Hari Merdeka

H Mutahar Ajudan Soekarno, Pencipta Lagu Hari Merdeka

Jakarta, Gatra.com - Perayaan kemerdekaan Republik Indonesia (RI) tidak lepas dari lagu yang menyertainya. Lagu Merdeka karya Husein Mutahar, atau H Mutahar menjadi salah satu yang paling sering dikumandangkan pada Hari Ulang Tahun (HUT) RI. Lagu ini menjadi bagian yang menyertai lomba-lomba Agustusan, termasuk dalam upacara peringatan kemerdekaan.

H Mutahar yang bernama lengkap Sayyid Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad al-Muthahar, lahir di Semarang pada 5 Agustus 1916. Kecintaannya pada musik terlihat pada 1943, ketika ia menjadi pegawai Dinas Kereta Api di Semarang dan mendirikan Korps Musik Kereta Api. Ia juga memiliki lebih dari 300 murid orkes simfoni remaja.

Dalam buku berjudul Mendendang Gambus Memeluk Indonesia karya Nabiel A. Karim Hayaze, lagu Hari Merdeka disebutkan lahir dalam toilet Hotel Garuda Yogyakarta. Hal itu seperti yang dijelaskan oleh Jenderal Hoegeng, teman sekamarnya yang juga merupakan ajudan Soekarno, bahwa ia kebingungan mencari kertas dan pulpen akibat ide H Mutahar yang tiba-tiba muncul dan harus segera dituangkan.

Lagu tersebut juga lahir dari permintaan Soekarno. Meskipun ia bertugas sebagai ajudan, Seokarno mengetahui kecintaan dan kemampuannya di bidang musik. Pada masa genting revolusi 1946, Soekarno memanggil H Mutahar dan meminta dibuatkan aubade. Menurut Kamus Besar bahasi indonesia (KBBI), aubade sendiri berarti nyanyian atau musik untuk penghormatan pada pagi hari.

H Mutahar sendiri juga dikenal sebagai pendiri Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Dalam buku Ziarah Sejarah karya Hamid Nabhan, dijelaskan bahwa pada masa Agresi Militer II, ia pernah ditugaskan oleh Presiden Soekarno untuk menjaga bendera pusaka merah putih saat Soekarno dan Hatta diasingkan oleh pihak Belanda.

Ia berhasil menjaga bagian sejarah Indonesia tersebut dengan cara memisahkan kain merah dan putih sehingga tidak terdeteksi oleh pasukan Belanda. Meskipun ia ikut diasingkan, bendera merah putih tidak terasing. Setelah ia keluar dari pengasingannya, ia menjahit kembali dan menyerahkannya pada Soekarno.

Setelah 87 tahun hidup dan menghabiskan sebagian waktunya untuk mengabdi dan bertarung memperjuangkan kemerdekaan indonesia, H Mutahar tutup usia pada 9 Juni 2004. Meskipun ia berhak dimakamkan di Taman Makam pahlawan atas jasanya, ia sudah menulis wasiat bahwa ia ingin dikebumikan sebagai rakyat biasa dalam tata cara Islam. Akhirnya, ia dikuburkan secara sederhana di Taman Pemakaman Umum jeruk Purut, Jakarta Selatan.