Home Ekonomi Pakar UGM: Luhut Bikin Gonjang-ganjing, BBM Naik Oligarki Untung

Pakar UGM: Luhut Bikin Gonjang-ganjing, BBM Naik Oligarki Untung

Yogyakarta, Gatra.com - Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menengarai oligarki berada di balik rencana pemerintah menaikkan harga BBM subsidi, Pertalite dan solar. Oligarki disebut menangguk keuntungan atas kenaikan harga BBM subsidi tersebut.

Ia menjelaskan, klaim Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan tentang kenaikan BBM subsidi ternyata tidak terbukti  hingga akhir pekan ini.

"Pernyataan Luhut itu menimbulkan gonjang-ganjing yang menyulut kenaikan harga-harga kebutuhan pokok sebelum harga BBM subsidi dinaikkan. Kehebohan Luhut juga menulut panic buying yang menyebabkan kelangkaan Pertalite dan solar di beberapa SPBU," ujar Fahmy, Minggu (28/8) malam.

Pemerintah, kata Fahmy, sesungguhnya sudah mengajukan tiga opsi, yakni penambahan subsidi, penaikkan harga BBM subsidi, dan pembatasan BBM subsidi. Opsi penambahan subsidi sudah mustahil dilakukan lantaran pemerintah sudah mengunci dana subsidi pada Rp502,4 triliun.

"Opsi penaikan harga BBM subsidi pertaruhannya terhadap momentum ekonomi dan menambah beban rakyat miskin terlalu besar," ujarnya.

Dengan demikian, menurut Fahmy, satu-satunya opsi yang tersisa adalah pembatasan BBM subsidi. Menteri Keuangan Sri Mulyani melansir data bahwa 70 persen subsidi Pertalite dan 90% subsidi solar salah sasaran. Total subsidi Pertalite dan solar yang salah sasaran mencapai Rp198 triliun, suatu jumlah yang amat besar bagi APBN.

"Kalau pembatasan subsidi BBM berhasil dilakukan, pemerintah tidak perlu menaikkan harga BBM subsidi," katanya.

Namun, Fahmy menengarai, pemerintah justru cenderung memilih opsi penaikan harga BBM subsidi yang konon akan diputuskan pada 1 September 2022. "Jangan-jangan industri besar selama ini peminum BBM subsdi melalui oligarki ikut bermain dalam pengambilan keputusan agar tetap bisa minum solar dengan harga Rp5.000, bukan Rp. 21.000 per liter," kata dia.

Menurutnya, jika pemerintah menaikkan harga solar subsidi menjadi Rp8.500 masih lebih menguntungkan bagi industri sekitar Rp13.000. "Kalau benar oligarki di balik keputusan penaikkan harga BBM subsidi, hanya satu kata: lawan!" kata Fahmy.

1170