Home Teknologi Peran IT dalam Konvergensi Sistem Informasi Manufaktur Indonesia

Peran IT dalam Konvergensi Sistem Informasi Manufaktur Indonesia

Peran Monitoring IT dalam Konvergensi Sistem Teknologi Informasi Industri Manufaktur Indonesia

Oleh:

Sebastian Krueger*

 

“Ke depan, inovasi berbasis data di sektor manufaktur akan berpotensi mendorong Indonesia ke tingkat daya saing manufaktur global”. —Sebastian Krueger

--------------------------

 

Berada di pertemuan rute perdagangan utama dengan nilai perdagangan global sebesar US$5,3 triliun atau setara Rp78 ribu kuadriliun yang melintas tiap tahun-nya, Asia Tenggara merupakan pusat kerja sama yang diperhitungan di kekuatan regional dan global. Di titik pertemuan ini, ada negara dengan perkembangan ekonomi yang pesat seperti Indonesia, yang mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,44 persen dari tahun ke tahun (yoy), pada kuartal kedua tahun ini dan PDB lebih dari US$331 miliar setara hampir Rp5 kuadriliun pada tahun 2022.

Indonesia memiliki potensi pertumbuhan dan perkembangan yang sangat besar. Hal ini dikarenakan negara ini merupakan rumah bagi lebih dari 270 juta orang, yang didominasi oleh usia kerja (69%), dan sebagian besar terdiri dari kelas menengah yang sedang tumbuh.

Memanfaatkan Perangkat Digital

Di tengah situasi pasca-pandemi, sektor manufaktur diperkirakan akan terus menjadi penggerak terbesar perekonomian Indonesia. Pada kuartal kedua tahun 2021, industri manufaktur menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia, yaitu sebesar 17,34%. Sementara, pada akhir 2021, industri ini tumbuh sebesar 3,68% dan berkontribusi sebesar 0,75% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Kegiatan manufaktur Indonesia telah berkembang stabil dengan meningkatnya nilai penjualan manufaktur, tenaga kerja, dan upah. Sektor manufaktur bahkan berada pada jalur yang tepat untuk menjadi penopang utama perekonomian Indonesia, dengan proyeksi kontribusi PDB lebih dari 20% pada tahun 2024. Pertumbuhan yang berkelanjutan dan ketahanan yang berkelanjutan maka diperkirakan di masa datang, kualitas hidup, dan pertumbuhan generasi penerus Indonesia akan bergantung pada kinerja sektor manufakturnya.

Bersamaan situasi pandemi yang mendorong terjadinya transformasi digital, produsen di Indonesia harus agresif memanfaatkan teknologi digital untuk mengatasi masalah produktivitas yang rendah dan semakin memperkuat posisi mereka sebagai “pabrik” yang canggih. Dalam mengoptimalkan proses manufaktur, mereka dapat melihat pemanfaatan kekuatan data, dan menggunakannya secara efisien untuk memberikan insight yang dapat bermanfaat bagi perusahaan.

Baca juga: Paessler Tunjuk Mitra Distribusi Baru di Indonesia dan Filipina

Katalisator dalam Transformasi Digital

Tren konvergensi sistem teknologi informasi (IT) dan teknologi operasional (OT) dalam industri manufaktur bukanlah konsep baru; tren ini telah diprediksi s ejak tahun 2011. Di perusahaan industri besar saat ini, administrator IT lebih banyak berurusan dengan dunia OT daripada sebelumnya.

Dari menjaga ethernet industri hingga memastikan infrastruktur pendukung OT sehat, peran tim IT dan OT dalam organisasi ini telah berkembang. Area IT dan OT menjadi semakin terhubung, dan data sekarang mulai dari dasar pabrik hingga perencanaan sumber daya perusahaan (ERP) atau sistem cloud. Tantangannya, kemudian, adalah memastikan kedua tim ini—dengan kekuatan, perspektif, pengetahuan, dan prioritas yang berbeda sehingga dapat berkolaborasi dengan mulus.

Baca juga: Paessler Apresiasi Mitra Lewat "APAC Top Partner Excellence Awards 2021"

Semua ini berarti terdapat potensi bahaya titik buta (blind spot)—area di mana masalah dapat terjadi di luar dugaan kedua tim. Saat produsen bergulat dengan memastikan konvergensi disederhanakan, mereka dapat melihat bagaimana teknologi dapat menjadi solusi alur kerja di seluruh departemen manufaktur. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam siklus kerja ini.

1. Memantau OT dan infrastruktur industri

Hal ini dilakukan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang situasi pabrik melalui pengamatan dan pemantauan perangkat khusus dalam OT misalnya: perangkat ethernet industri, seperti router, sakelar, dan firewall; pergudangan industri, tempat perangkat dan perangkat keras lainnya disimpan; gerbang industri (industrial gateway) yang menerjemahkan protokol, mengumpulkan data dari perangkat, dan mentransfer data ke titik akhir (end point).

2. Memastikan pengontrol dan sistem eksekusi berjalan baik

Hal ini dilakukan dengan memantau sistem pabrik, seperti SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition), dan MES (Manufacturing Execution System), dan memastikan mereka berjalan sangat penting untuk arsitektur industri, karena bisa merugikan jika tidak beroperasi.

3. Membawa data OT ke dalam konsep pemantauan

Hal ini dilakukan meminimalkan titik buta (blind spot) dalam infrastruktur dengan menggabungkan semua data menjadi satu alat, memungkinkan tinjauan umum status kesehatan semua komponen IT dan OT.

Terlepas dari lokasi data berada–di inti (core) atau di tepi (edges)–kemampuan untuk memantau seluruh jaringan pasokan digital dan memastikan waktu aktifnya akan membantu dalam mencapai keberhasilan.

Ke depan, inovasi berbasis data di sektor manufaktur akan berpotensi mendorong Indonesia ke tingkat daya saing manufaktur global. Sebagai pakar pemantauan IT, Paessler menyadari peran penting data di dalam industri. Solusi pemantauan tingkat lanjut akan memainkan peran penting dalam membantu bisnis dan produsen memantau konvergensi IT dan OT, memastikan transformasi digital berjalan mulus, dan memungkinkan mereka memantau data di lokasi serta di lokasi terpencil dengan lebih baik.

*Penulis adalah Vice President Asia Pasifik di Paessler.