Home Ekonomi Bapennas Abaikan Ramalan Bank Dunia soal Kemiskinan di Indonesia

Bapennas Abaikan Ramalan Bank Dunia soal Kemiskinan di Indonesia

Jakarta, Gatra.com - Deputi Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bapennas, Pungky Sumadi mengatakan pemerintah Indonesia optimistis dan tidak akan terpengaruh atas ramalan World Bank (Bank Dunia), yang menyebut target penurunan kemiskinan di 2030 akan semakin sulit dicapai. Sementara, Indonesia menargetkan kemiskinan ekstrim pada 2024 mencapai 0 persen.

"Buat kami itu (perhitungan World Bank) bukan hal yang baru. Kita konsisten aja dengan apa yang kita lakukan dengan menggunakan data yang kita percayai, itu baik buat kita, kita kejar," ujar Pungky usai menghadiri Bincang-bincang Regsosek di Jakarta, Senin (10/10).

Ia menegaskan, pemerintah konsisten dan tak akan merevisi target kemiskinan ekstrim di 2024 sebesar 0 persen. Meskipun, prediksi kondisi ekonomi global suram di tahun depan.

"Tidak akan pernah kita revisi. Kalau kita menargetkan 0 persen di 2024 kita kerjakan," tuturnya.

Baca JugaKajian Bank Dunia: Inovasi Kartu Prakerja Dorong Masyarakat Akses Pembayaran Digital

Ia mengatakan, secara data yang dihitung Bank Dunia, angka kemiskinan Indoenesia pada Februari 2022 sebesar 2,04 persen. Angka itu, kata Pungky, jauh lebih rendah dari prediksi pemerintah Indonesia sebesar 3,71 persen.

"Dibandingkan dengan target kita sebelumnya, jauh (penurunannya) dari 3,71 persen menjadi 2,04 persen. Terus gimana dengan menyelesaikan 0 persen kira-kira dapet nggak? Begitu cara berpikirnya," jelasnya.

Adapun upaya yang dilakukan pemerintah dalam menekan kemiskinan ekstrim, kata Pungky, yaitu melalui transformasi data sosial ekonomi. Salah satunya yaitu registrasi sosial ekonomi (Regsosek) yang dicanangkan pemerintah saat ini.

Baca Juga: Akibat Covid, Angka Kemiskinan Indonesia Naik 26,42 Juta

Dalam Regsosek, pendekatan kemiskinan nantinya tidak lagi dilakukan secara sektoral, melainkan berdasarkan kewilayahan.

"Artinya apa? Setiap desa itu nanti akan memiliki ciri khas sendiri apa yang menjadi penyebab kemiskinan utama mereka. Nanti Pemda membaca data, setelah dianalisis Regsosek, kemudian dengan data monografi desa yg lebih akurat, itu mereka akan lihat oh ternyata penyebabnya (kemiskinan ekstrim) ini," tandas Pungky.

90