Home Regional Kasus Stunting di Banten Masih Tinggi 24,5 Persen Melebihi Angka Nasional

Kasus Stunting di Banten Masih Tinggi 24,5 Persen Melebihi Angka Nasional

Tangerang, Gatra.com - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan angka prevalensi kekerdilan atau stunting pada anak di wilayah Provinsi Banten telah mencapai 24,5 persen. Angka tersebut melebihi angka nasional.

Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan KB BKKBN, Lalu Makripuddin menyampaikan, angka sebesar 24,5 persen anak penderita stunting tersebut lebih tinggi, bila dibandingkan dengan data nasional yang hanya mencapai 24,1 persen.

"Jadi ada 12 provinsi yang menjadi prioritas di Indonesia dalam penanganan kasus stunting. Maka apabila kita selesaikan kasus itu 56 persennya bisa diselesaikan, seperti salah satunya di Banten karena angkanya cukup tinggi baik itu dari sisi jumlah total maupun di persentase yang mencapai 24,5 persen," ujar Lalu di Tangerang, Sabtu (16/10).

Baca juga: APPNIA Komitmen Dukung Program Pemerintah Turunkan Prevalensi Stunting

Ia mengatakan lantaran tingginya persentase jumlah kekerdilan di Provinsi Banten ini diharapkan seluruh instansi dan stakholder terkait dapat segera dikendalikan secara baik. Hal itu, target penekanan angka stunting secara nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat yaitu sebesar 14 persen bisa tercapai di 2024.

"Untuk secara nasional itu kita target sebesar 14 persen dan diharapkan Banten juga bisa mencapai 14 persen, sebagai mendukung capaian nasional di 2024," katanya.

Kendati demikian, kasus kekerdilan di Indonesia sendiri masih terjadi karena terdapat anak atau remaja usia dini masih beresiko mengalami kekurangan energi kronik (KEK). Menurutnya, pemberian pendampingan atau edukasi kepada para calon pengantin muda sangat penting dilakukan sebagai upaya pencegahan atau menekan angka pada kasus stunting tersebut.

Baca juga: Angka stunting meningkat, budaya PHBS wajib di terapkan

"Dengan dukungan dari Komisi IX DPR RI yang menambah anggaran dalam program edukasi ini sangat membantu. Sehingga saat ini kami memiliki anggaran cukup untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat," katanya.

Ia mengatakan dalam menurunkan angka prevalensi kekerdilan tidak bisa hanya memperkuat sinergitas dan kolaborasi seluruh pihak saja. Namun, dibutuhkan kehadiran dan keaktifan dari masyarakat sekitar sangat diperlukan.

"Maka kita kembangkan yang namanya Bapak Asuh Anak Stunting, kemudian kemitraan-kemitraan kita juga kembangkan dengan 1.000 mitra untuk 1.000 hari pertama kehidupan. Karena apabila kita saat ini berhasil melewati dengan baik  maka stunting itu kita bisa cegah," tandasnya.

32