Home Regional Kemarau Datang, 194 Desa di Pati Terancam Terdampak Kekeringan

Kemarau Datang, 194 Desa di Pati Terancam Terdampak Kekeringan

Pati, Gatra.com - Sebanyak seratusan desa di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, berpotensi terdampak bencana kekeringan. Mirisnya, puluhan wilayah di antaranya, telah mengalami kekeringan ekstrem.

Ketua BPBD Pati, Martinus Budi Prasetya mengatakan berdasarkan kajian risiko bencana secara kumulatif ada 194 desa dari 11 kecamatan yang terdampak. Dari jumlah tersebut, sedikitnya 58 desa di tujuh kecamatan mengalami kekeringan parah.

“Untuk sebarannya itu yang paling parah di wilayah Kecamatan Jaken, Jakenan, Winong, Pucakwangi, Gabus, Tambakromo, dan Kayen. Sangat dimungkinkan akan berkembang ke Kecamatan Juwana dan Batangan,” ujarnya kepada Gatra.com saat ditemui di kantornya, Rabu (23/8).

Disebutkan, bencana pada tahun ini bakal lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Terlebih adanya fenomena El Nino. Sehingga masyarakat diminta bersiap didera kemarau yang lebih kering dan lama.

“Sesuai perkiraan dari BMKG, jika puncak musim kemarau di bulan Agustus dan September. Tahun ini akan lebih lama, seperti pada tahun 2019. Kalau kemarau pada tahun lalu kan kemarau basah imbas La Nina,” jelasnya.

Pekan ketiga pada bulan Agustus ini, dibeberkan, telah banyak permintaan distribusi air bersih. Secara total, BPBD telah mengirimkan 40 tanki air bersih dengan kapasitas antara 4.000—5.000 liter.

“Makin banyak desa yang membutuhkan bantuan, ada 47 desa yang sudah kita layani. Setiap hari kita kirimkan lima hingga enam tangki air bersih ke daerah terdampak. Biasanya pagi kita kirim dan siang kita kirim lagi. Kita juga bekerjasama dengan PMI, kelompok relawan dan CSR perusahaan untuk membantu kekeringan wilayah Pati,” tuturnya.

Terpisah, Zainuri warga Desa Tanjungsekar, Kecamatan Pucakwangi, mengaku daerahnya sudah terdampak bencana kekeringan sejak awal musim kemarau, atau dua bulan kemarin. Meski sudah ada lima titik bak penampungan bantuan air bersih. Namun masih tidak cukup memenuhi kebutuhan harian warga.

“Setiap kemarau pasti kekeringan, ini sudah dua hari tidak ada kiriman air bersih. Kami sudah mengajukan ke BPBD, tapi belum ada kiriman lagi. Air bersih dipakai buat kebutuhan masak, cuci, dan mandi. Kalau untuk minum kita beli galon,” terang kakek berusia 63 tahun itu.

Ia menambahkan, pihak pemerintah sebenarnya beberapa tahun kebelakang, pernah membuat pamsimas untuk mengatasi persoalan bersih di lokasi, khususnya saat kemarau melanda. Hanya saja, air yang keluar tidak layak konsumsi.

“Airnya itu asin. Sekarang malah sudah tidak aktif lagi. Kalau di sini untuk KK-nya sekitar 100 lebih. Kami berharap segera datang droping air bersih di desa kami,” pungkasnya.

58