Home Teknologi Lagi! Gerhana Luna, Matahari-Bumi-Bulan Berbaris Tak Sempurna, Begini Hukum dan Cara Shalat Khusuf

Lagi! Gerhana Luna, Matahari-Bumi-Bulan Berbaris Tak Sempurna, Begini Hukum dan Cara Shalat Khusuf

Jakarta, Gatra.com- Lagi, bangunan Matahari-Bumi-Bulan yang berbaris tak sempurna membentuk gerhana luna sebagian atau gerhana bulan parsial. Di Indonesia, gerhana Bulan parsial dimulai pada Ahad, 29 Oktober, pukul 01.01 WIB. Gerhana maksimum (puncak gerhana) terjadi pada pukul 03.14 WIB. Gerhana berakhir 05.26 WIB.

Data tersebut mengutip peristiwa gerhana di Jakarta. Gerhana bulan ini mengikuti gerhana Matahari cincin yang terjadi pada saat bulan baru di kawasan Amerika, 14 Oktober 2023 (15 Oktober WIB). Jika gerhana bulan terjadi saat full moon atau bulan purnama, gerhana Matahari terjadi pada saat bulan baru.

Gerhana bulan sebagian juga disebut gerhana bulan parsial. Gerhana bulan sebagian terjadi ketika bumi tidak seluruhnya menghalangi bulan dari sinar matahari. Sebagian permukaan bulan berada di daerah penumbra, sehingga masih ada sebagian sinar matahari yang sampai ke permukaan bulan.

Durasi dari 15 hingga 29 Oktober, tepat 14 atau 15 hari atau saat fase bulan purnama yang merupakan syarat terjadinya gerhana bulan.

Apa itu Gerhana Bulan Sebagian

Bulan bersinar karena permukaannya memantulkan sinar matahari. Gerhana bulan terjadi ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan dan menghalangi sebagian atau seluruh cahaya Matahari untuk mencapai Bulan. Gerhana bulan sebagian terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan sejajar tidak sempurna.

Gerhana bulan sebagian terjadi ketika hanya sebagian bundaran Bulan memasuki kawasan umbra (bayangan gelap) Bumi, di mana tidak semua bagian bulan terhalangi Bumi dari sinar Matahari. Sebagian permukaan Bulan yang lain berada di daerah penumbra (bayangan samar).

Penumbra adalah bagian luar bayangan Bumi yang samar. Gerhana bulan sebagian tidak sedramatis jenis gerhana Bulan total. Meskipun bulan akan nampak 'cuil' permukaannya yang kata orang dahulu karena dimakan Bathara Kala.

Gerhana hanya Saat Terjadi Simpul Bulan

Alasan mengapa kita tidak melihat gerhana bulan setiap malam Bulan Purnama berkaitan dengan kemiringan jalur orbit Bulan. Bidang orbit Bulan mengelilingi Bumi condong pada sudut 5° terhadap bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari, ekliptika.

Titik pertemuan dua bidang orbit disebut simpul bulan. Gerhana bulan hanya dapat terjadi ketika Bulan Purnama terjadi di dekat sebuah simpul.

Tidak seperti gerhana matahari , yang hanya dapat dilihat di sepanjang jalur sempit dari sebagian kecil Bumi, gerhana Bulan dapat diamati di seluruh sisi malam Bumi saat gerhana terjadi.

Shalat Khusuf Yuk!

Saat terjadi gerhana umat Islam disunahkan untuk shalat gerhana (shalat Khusuf). Hukumnya sunah muakkad yaitu amalan sunnah yang dilakukan untuk menyempurnakan suatu ibadah wajib dan dianjurkan dilakukan sebab tingkatannya hampir mendekati ibadah wajib.

Waktu pelaksanaan saat terjadi gerhana. Yaitu, begitu terjadi gerhana diberikan aba-aba, "Assholatu Jami’ah”. Jumlah rokaat shalat gerhana adalah dua, dengan empat Alfatihah dan empat bacaan surat. Juga empat ruku'.

Untuk memudahkan dalam memahami, tatacara pelaksanaan shalat gerhana akan dijelaskan dalam bentuk urutan sebagai berikut:

1. Niat. Cukup menyengaja dalam hati, tidak harus dilafalkan.
2. Takbiratul ihram.
3. Membaca doa iftitah. Doa iftitah yang dibaca bebas, bisa memilih yang pendek, pertengahan maupun yang panjang asalkan didasarkan pada riwayat yang shahih. Doa iftitah dibaca pelan.
4. Membaca Ta’awudz. Ta’awudz juga dibaca dengan pelan.
5. Membaca surat Alfatihah. Surat Alfatihah dibaca dengan keras.
6. Membaca surat. Jika mampu membaca surat Albaqoroh atau surat lain yang panjangnya kira-kira sama. Jika tidak mampu surat Albaqoroh, maka bebas memilih surat yang lain, baik yang panjang maupun yang pendek.
7. Ruku’. Ruku’ dilakukan dengan lama, kira-kira selama orang membaca 100 ayat. Bacaan Tasbih saat Rukuk bebas asalkan didasarkan pada riwayat yang shahih
8. I’tidal. Pada saat ini, bacaan Tasmi’ (dilafalkan).
9. Membaca Al-Fatihah kedua. Selesai membaca Tasmi’ tangan disedekapkan lagi lalu membaca Alfatihah untuk yang kedua kali. Inilah yang membedakan dengan Shalat-Shalat biasa. Jika pada Shalat biasa setelah I’tidal langsung Sujud, maka pada Shalat gerhana setelah I’tidal berdiri lagi untuk membaca Alfatihah lagi.
10. Membaca surat. Jika mampu membaca surat Ali Imran atau surat lain yang panjangnya kira-kira sama. Jika tidak mampu surat Ali Imran, maka bebas memilih surat yang lain baik yang panjang maupun yang pendek.
11. Ruku’. Ruku’ dilakukan dengan lama, tetapi lebih pendek sedikit daripada Rukuk yang pertama. Bacaan Tasbih saat Rukuk bebas asalkan didasarkan pada riwayat yang shahih.
12. I’tidal. Pada saat ini, bacaan Tasmi’ (Dilafalkan).
13. Sujud. Setelah I’tidal dan membaca Tasmi’, langsung sujud. Sujud juga diusahakan lama. Sujud dilakukan dua kali yang disela-selai duduk diantara dua sujud sebagaimana Shalat biasa

Berdiri dari Sujud untuk melakukan Rokaat yang kedua. Pada Rokaat yang kedua ini yang dilakukan sama persis dengan Rokaat yang pertama, hanya saja durasi waktunya lebih pendek. Alfatihah dan surat dibaca, lalu Rukuk, lalu I’tidal lalu membaca lagi Alfatihah dan surat lalu Rukuk lalu I’tidal. Sebagaimana dalam Rokaat pertama dilakukan dua kali berdiri dan dua kali Rukuk, maka pada Rokaat yang kedua ini juga dilakukan dua kali berdiri dan dua kali Rukuk.

14. Sujud. Setelah I’tidal, maka gerakan dilanjutkan dengan Sujud dua kali yang disela-selai duduk diantara dua sujud. Sujud pada rokaat yang kedua ini juga lama, tetapi lebih pendek daripada sujud pada rokaat pertama.
15. Salam.

230