Home Kesehatan Kenali Populasi Rentan dalam Kasus Monkeypox

Kenali Populasi Rentan dalam Kasus Monkeypox

Jakarta, Gatra.com – Monkeypox atau cacar monyet telah menjadi atau kejadian luar biasa  (outbreak) dalam sektor kesehatan dunia. Tercatat, hingga 5 Agustus 2022 silam, kasus cacar monyet telah dilaporkan oleh sebanyak 88 negara di dunia, dengan total sebanyak 28.220 kasus.

Peningkatan kasus cacar monyet terbilang cukup cepat. Pasalnya, jumlah tersebut naik, dari hanya 75 negara yang melaporkan kasus infeksi cacar monyet pada pekan sebelumnya. Bahkan, kasus-kasus terakhir cacar monyet dilaporkan oleh sejumlah negara di Asia Tenggara, yakni Singapura, Thailand, dan Filipina.

Spesialis penyakit dalam dr. Robert Sinto menjelaskan, ada populasi yang harus diperhatikan dalam kasus cacar monyet ini, untuk dapat mendeteksi kasus dengan lebih dini.

Secara lebih rinci, Robert memaparkan bahwa 98% dari 528 kasus infeksi yang terlapor sepanjang April–Juni 2022 di 16 negara terdeteksi pada orang-orang dengan orientasi seksual gay, biseksual, maupun pria yang berhubungan dengan pria (LSL). Sementara itu, 41% di antaranya terdeteksi positif HIV.

“Jadi tidak semuanya atau tidak mayoritas adalah HIV. Jadi 59% HIV negatif,” jelas Robert dalam acara webinar kesehatan bertajuk “Indonesia Waspada Wabah Monkeypox” yang diselenggarakan oleh Continuing Medical Education Fakultas Kedokteran Indonesia FK UI), Selasa (9/8).

Baca Juga: Serupa Tapi Tak Sama, Simak Perbedaan Cacar Monyet dengan Cacar Air!

Laporan tersebut selaras dengan laporan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), yang menyatakan bahwa 98% dari 5.000 populasi masyarakat dengan cacar monyet memiliki orientasi seksual gay, biseksual, dan LSL, sementara 41%-nya tercatat positif HIV. Ataupun data dari Inggris, yang menunjukkan 96,2% dari 445 memiliki orientasi seksual serupa, serta 29,5% terdeteksi positif HIV.

“Poin saya di sini adalah bahwa ada komunitas kecil yang bukan dari MSM (Man sex with man/LSL) atau gay, biseksual, yang juga bisa terkena, yaitu 2–4 persen. Jadi penyakit ini memang tidak murni MSM atau gay biseksual,” ujar Robert.

Ia pun kembali menekankan bahwa cacar monyet bukanlah penyakit yang menempel pada orang dengan HIV. Terlebih, seperti yang Robert jelaskan, CD4 pasien positif HIV justru terbilang cukup baik, dengan 680 dan jumlah virus yang juga tertekan.

“Jadi penyakit ini bukan penyakit yang mengenai pasien dengan kekebalan tubuh menurun, karena pasien-pasien sehat pun bisa terinfeksi oleh cacar monyet ini,” ujarnya.

Robert juga memaparkan bahwa cacar monyet bukanlah penyakit menular seksual. Dengan jumlah penularan terbesar melalui kontak seksual, Robert pun menggarisbawahi bahwasanya cacar monyet merupakan penyakit yang ditularkan melalui kontak erat. Alih-alih tergolong penyakit menular seksual, cacar monyet justru disebut sebagai infeksi yang teramplifikasi akibat adanya aktivitas seksual.

Baca Juga: Waduh!! Warga Pati Suspek Cacar Monyet

Uniknya, seperti yang Robert jelaskan, sebanyak 26% pasien cacar monyet yang mengingat bahwa mereka pernah kontak dengan seseorang yang terpapar cacar monyet. Hal itu mungkin disebabkan oleh kontak erat pada fase akut dalam periode infeksi cacar monyet, di mana sudah muncul gejala awal yang belum disertai lesi kulit.

Sebagaimana dijelaskan oleh Robert, penderita cacar monyet memiliki dua periode. Pertama, inkubasi, yakni seseorang sudah terinfeksi namun masih belum menunjukkan gejala. Kedua, infeksi yang terbagi ke dalam dua fase, yakni fase akut di mana gejala awal sudah muncul tanpa disertai lesi kulit, serta fase erupsi di mana ruam mulai bermunculan dan menyebar di berbagai area tubuh.

“Pada periode inkubasi ini, seseorang belum dinyatakan sebagai potensial penular. Karena itu, kalau kita berkontak, ada pasien yang kontak dengan orang yang cacar monyet, selama dia belum menunjukkan gejala, maka yang bersangkutan tidak diperlukan isolasi,” ujar Robert dalam webinar tersebut.

Robert pun berpesan, untuk tenaga kesehatan atau pihak mana pun yang harus melakukan kontak dengan pasien cacar monyet, agar senantiasa menghindari kontak langsung dengan pasien, menggunakan sarung tangan dan alat pelindung diri, serta selalu mencuci tangan sebelum dan setelah merawat pasien atau mengunjungi orang yang sakit.

“Jadi close contact, droplet, skin lession, ini kalau kita bisa putus jalur transmisi ini, maka mudah-mudahan kita bisa melindungi diri kita atau lingkungan pasien dari tertular infeksi monkeypox,” ujar Robert. Ia juga mengimbau masyarakat untuk segera mengunjungi dokter apabila ada lesi yang dicurigai sebagai cacar monyet.