Home Kesehatan Pasien Kanker Rentan Terkena Gangguan Mental

Pasien Kanker Rentan Terkena Gangguan Mental

Jakarta, Gatra.com- Dukungan Psikologis untuk Pasien dan Keluarganya Pembicara dr. I Gusti Ngurah Agastya, Sp.KJ memaparkan tentang pentingnya mendeteksi kesehatan mental pada pasien kanker anak dan orang tuanya. Ada banyak faktor yang menyebabkan risiko gangguan mental pada pasien kanker anak.

Secara biologis, perkembangan otak belum optimal dan ada ketidak seimbangan neurotransmiter (dopamin, serotonin, dll). Anak juga belum bisa mengelola kondisi psikologis dalam hal ini mekanisme koping/ kemampuan mengatasi masalah.

“Belum lagi bicara soal faktor sosial, keluarga, ekonomi dan sebagainya. Anak-anak tidak bisa masuk sekolah dan bertemu teman-temannya karena harus menjalani perawatan panjang di rumah sakit,” jelas dr. Agastya.

Semua faktor ini akan meningkatkan risiko gangguan mental organik berupa depresi, rasa cemas, bahkan bisa berkaitan dengan penyelahgunaan obat terlarang dan perilaku bunuh diri.

Dr. Agastya menjelaskan, ada ciri ciri gangguan kesehatan mental pada anak yang bisa dideteksi pada anak, antara lain kesulitan dalam hubungan interpersonal, meningkatnya gangguan somatisasi yang berupa keluhan gejala fisik, rasa percaya diri yang rendah atau citra diri yang rendah terhadap bentuk tubuh, gangguan emosi dan gangguan perilaku.

Anak yang mengalami gangguan suasana hati atau gangguan mental akan berdmapak pada ketidakteraturan pengobatan dan ketidak kooperatifan pengobatan.

Bagaimana dengan orang tua pasien? Dukungan perlu juga diberikan pada orang tua anak dengan kanker. “Diagnosis kanker pada anak dapat menjadi pengalaman yang traumatik untuk orang tua. Pasti timbul rasa terkejut, takut, dan putus asa yang akhirnya meningkatkan gangguan kecemasan bahkan depresi,” ujar dr. Agastya.

Belum lagi, lanjut dr. Agastya, kunjungan ke rumah sakit yang sering dan berulang kali semakin memperberat kondisi mental, dan mereka pun harus berbagi tanggungjawab dengan  anak yang lain/ saudara pasien/ kakak dan adik pasien.

Padahal, peran dan kehadiran orangtua sangat penting dalam menunjang pengobatan dan kesembuhan. Orang tua pasien lah yang harus diberikan penjelasan yang dapat dimengerti tentang kondisi yang dialami anak dan bagaimana ia mendampingi setiap sesi pengobatan. 

“Tugas kita sebagai tenaga kesehatan adalah mengedukasi orang tua pasien bagaimana mengelola stres yang dialami orang tua dengan baik. Mereka bisa mengekspresikan emosi dengan cara yang sehat,” jelas dr. Agastya.

Mendampingi anak menjalani proses pengobatan bersama dengan orang terdekat atau masuk dalam komunitas akan sangat membantu.

79