Home Kesehatan Tren di Asia Turun, Kanker Paru di Indonesia Cenderung Naik

Tren di Asia Turun, Kanker Paru di Indonesia Cenderung Naik

Jakarta, Gatra.com– Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM, FINASIM, FACP menjelaskan, kanker paru adalah jenis kanker yang kejadiannya paling tinggi pada laki-laki di Indonesia. Karena 95% kanker paru akibat lingkungan serta gaya hidup dan kebiasaan merokok.

"Dalam hal ini Indonesia menempati posisi nomor satu dalam jumlah perokok laki dewasa di dunia, serta polusi sekitar yang tinggi,” katanya dalam diskusi virtualnya, Selasa (30/8).

Lebih lanjut Prof. Aru menyampaikan, gejala pada kanker paru seringkali tidak tampak pada stadium awal. Hal ini berakibat dimana data saat ini menunjukkan bahwa 60% pasien kanker paru datang dalam stadium lanjut. Sebab seringkali kanker paru memiliki gejala yang serupa dengan penyakit umum lainnya, seperti TBC.

"Dengan demikian penting bagi masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan tentang faktor risiko, gejala, dan perawatan yang tersedia termasuk perawatan inovatif terkini sebagai harapan baru bagi pengobatan kanker paru,” jelas Prof Aru.

Menurut dia, salah satu hal yang menjadi sangat memprihatikan adalah angka kematian akibat kanker paru dalam kurun waktu kurang dari satu tahun di Indonesia terus meningkat. Hal ini merujuk data Globocan 2018, dimana angka kematian akibat kanker paru untuk wilayah Asia secara keseluruhan justru mengalami penurunan sebanyak 3%.

Menurut RISKESDAS 2018, angka kejadian kanker (prevalensi) di Indonesia meningkat mencapai ~30% sejak tahun 2013 hingga 2018 dimana sebanyak 58% prevalensi berada di kota-kota besar. 

Adapun 85% sampai 95% kanker paru adalah dari jenis “kanker paru-paru bukan sel kecil” atau disebut juga dengan kanker sel gandum. Dimana  10% hingga 15% dari seluruh jenis  kanker paru ini dengan sifat cenderung menyebar dengan cepat.

Spesialis penyakit dalam, Dr. Andhika Rachman, SpPD-KHOM menjelaskan bahwa 90% dari kasus kanker paru pada pria dan 80% pada perempuan datang dari sejarah merokok atau perokok pasif.

Dr. Andhika juga mengutarakan, berdasarkan studi dari National Institute of Health, USA pada tahun 2019, ditemukan ada hubungan yang jelas antara vaping dan kanker paru. Hal ini merujuk penelitian terhadap tikus yang diberikan uap nikotin dari vape.

Dimana dari 40 tikus yang tereksposur selama 54 minggu, ada 22,5% terkena kanker paru. Lalu 57,5% mulai tampak pre-cancerous lesion dari kandung kemih, sementara 18 tikus yang juga diberi uap vape tapi tidak mengandung nikotin, tidak terkena kanker setelah 4 tahun diamati.

Khusus untuk kondisi kanker paru di tanah air, Data GLOBOCAN 2020 menunjukkan bahwa kanker paru merupakan penyebab kematian kanker tertinggi di Indonesia dengan 84 orang meninggal dan 95 kasus baru terdiagnosa setiap hari nya.  

“Sebagai pengetahuan dasar, masyarakat perlu memperhatikan gejala awal kanker paru untuk mendapatkan diagnosis yang cepat sebagai dasar pemberian pengobatan yang tepat. Jika kanker paru ditemui pada stadium awal, harapan hidup pasien lima tahunan akan lebih tinggi,” lanjut Dr. Andhika.